Skip to main content

Posts

Mengapa Saya Tak Pernah Benar-Benar Tenang Menggunakan AI

Belakangan ini, saya semakin sering merasa bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu. Ia sudah naik kelas, menjadi semacam kebutuhan. Hampir semua mahasiswa yang saya temui mengerjakan tugas dengan bantuan AI. Di dunia kerja, hal yang sama terjadi. Menulis, menganalisis, merangkum, bahkan mengambil keputusan, semua bisa diserahkan pada mesin. Awalnya saya juga menikmati kemudahan itu. Siapa yang tidak? AI terasa seperti rekan kerja yang tidak pernah lelah, tidak banyak bertanya, dan selalu siap membantu. Tapi lama-lama, muncul kegelisahan yang sulit saya abaikan: kalau semua ini terus berlanjut, akankah AI suatu hari dianggap sebagai kebutuhan primer? Pertanyaan itu bukan muncul dari ketakutan berlebihan, melainkan dari pengalaman sehari-hari. Saya melihat bagaimana proses berpikir mulai dipersingkat, bahkan dipotong. Bukan lagi "bagaimana saya memahami persoalan ini", melainkan "bagaimana cara saya menuliskan prompt ini ke AI agar jawabannya sesuai harapan say...
Recent posts

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

'Till Forever Falls Apart' dan Awal Aku Jatuh Cinta ke Ashe Music

Beberapa waktu lalu, aku pernah nulis tentang FINNEAS di blog ini: musisi jenius yang nggak cuma punya suara enak, tapi juga lihai banget ngeracik lagu buat dirinya sendiri dan orang lain. Tapi kali ini, aku pengin bahas sahabat sekaligus partner kolaborasinya yang nggak kalah keren, yaitu Ashe. Aku pertama kali tahu Ashe gara-gara dia duet sama Finneas di lagu 'Till Forever Falls Apart. Dari awal lagu itu diputar, aku langsung berhenti ngapa-ngapain. Suara mereka berdua tuh cocok banget, kayak dua warna yang beda tapi kalau disatuin jadi lukisan yang pas. Lagunya sendiri juga ngena banget, tentang dua orang yang tahu hubungan mereka mungkin nggak akan selamanya, tapi tetap milih jalanin sepenuh hati. Jujur, dari situ aku langsung kepo: siapa sih Ashe? Ternyata Ashe ini solois cewek asal Amerika yang punya gaya musik indie-pop yang unik, ada sentuhan klasiknya, tapi tetap kekinian. Dan yang paling aku suka dari dia: lirik-lirik lagunya tuh kayak ngasih suara ke perasaan...

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

#Puisi: Mimpi tentang Lelaki yang Sudah Ditakdirkan Mati

Mimpi tentang Lelaki yang Sudah Ditakdirkan Mati Pada malam yang mencuri namaku, aku bermimpi menjadi suara tidak lantang, tidak juga hening, tapi cukup untuk memecah waktu yang sudah membatu. Di mimpi itu: Tan Malaka berjalan sendiri melewati batas antara catatan kaki dan nasib. Ia tak menoleh saat aku memanggilnya, namaku tak tertulis di zamannya. Aku coba menggores dinding penjara dengan kuku ingatan: "Belok kiri. Jangan bicara dengan prajurit itu. Lari sekarang. Jangan tidur malam ini." Tapi kata-kata hanyalah pasir di antara roda sejarah yang melindas apa pun selain keputusan. Aku mencoba menyelipkan surat kecil ke sakunya, tulisan tanganku sendiri: "Sejarahmu bisa diubah. Kami menunggumu di masa depan dalam mural yang tak akan selesai." Tapi tangannya menolak seperti tubuh yang tahu akhir cerita dan tetap memilihnya. Aku adalah mesin waktu yang rusak, berputar di antara mungkin dan tidak pernah. Waktu menolakku dengan halus seperti debu yang enggan...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...

Blind Watch Anime Baru: Lord of the Mysteries

Sebagai seseorang yang datang tanpa bekal apapun (alias belum pernah baca novel atau manhua-nya), pengalaman menonton episode pertama anime Lord of the Mysteries ini bisa dibilang... campur aduk. Ini benar-benar blind watch pertamaku terhadap adaptasi novel China yang masuk ke ranah anime seasonal. Jujur, atmosfernya jadi nilai jual utama di episode perdana ini. Kita disambut dengan dunia steampunk gelap ala Eropa abad 19-an, lengkap dengan kabut tebal, topi tinggi, dan ritual-ritual misterius yang bikin merinding. Adegan pembukanya juga cukup sukses bikin penasaran: bunuh diri mencurigakan + buku misterius = kombinasi pembuka yang tidak bisa di-skip. Karakternya? MC-nya, Klein, sejauh ini terasa cukup relatable. Dia bukan tipe "langsung OP dari episode 1", tapi pakai akal, observatif, dan cukup manusiawi dalam bereaksi terhadap hal-hal aneh. Ini jarang-jarang lho di anime-anime baru, di mana MC seringkali dikasih "cheat" dari awal. Sayangnya, di balik a...