Mimpi tentang Lelaki yang Sudah Ditakdirkan Mati
Pada malam yang mencuri namaku,
aku bermimpi menjadi suara
tidak lantang, tidak juga hening,
tapi cukup untuk memecah waktu
yang sudah membatu.
Di mimpi itu: Tan Malaka
berjalan sendiri
melewati batas antara catatan kaki dan nasib.
Ia tak menoleh saat aku memanggilnya,
namaku tak tertulis di zamannya.
Aku coba menggores dinding penjara
dengan kuku ingatan:
"Belok kiri. Jangan bicara dengan prajurit itu.
Lari sekarang. Jangan tidur malam ini."
Tapi kata-kata hanyalah pasir
di antara roda sejarah
yang melindas apa pun selain keputusan.
Aku mencoba menyelipkan
surat kecil ke sakunya,
tulisan tanganku sendiri:
"Sejarahmu bisa diubah.
Kami menunggumu di masa depan
dalam mural yang tak akan selesai."
Tapi tangannya menolak
seperti tubuh yang tahu
akhir cerita
dan tetap memilihnya.
Aku adalah mesin waktu yang rusak,
berputar di antara mungkin
dan tidak pernah.
Waktu menolakku dengan halus
seperti debu yang enggan menempel
pada marmer makam.
Dan saat Tan ditangkap,
aku berdiri di antara para bayangan
yang tahu lebih dulu,
tapi tak diizinkan menyentuh apa-apa.
Kami berbisik di celah-celah buku teks
yang sudah dilaminasi diam.
Kami menggigil, bukan karena dingin,
tapi karena segala upaya adalah gema
yang tak pernah sampai.
Lalu mimpi itu pecah.
Dan pagi datang dengan berita yang sama:
Tan Malaka masih mati,
dan aku masih hidup,
memanggul kesia-siaan
seperti ransel yang tak pernah dibuka.
Pemalang, 3 Juli 2025
Comments
Post a Comment