Skip to main content

#Puisi: Mimpi tentang Lelaki yang Sudah Ditakdirkan Mati


Mimpi tentang Lelaki yang Sudah Ditakdirkan Mati

Pada malam yang mencuri namaku,
aku bermimpi menjadi suara
tidak lantang, tidak juga hening,
tapi cukup untuk memecah waktu
yang sudah membatu.

Di mimpi itu: Tan Malaka
berjalan sendiri
melewati batas antara catatan kaki dan nasib.
Ia tak menoleh saat aku memanggilnya,
namaku tak tertulis di zamannya.
Aku coba menggores dinding penjara
dengan kuku ingatan:
"Belok kiri. Jangan bicara dengan prajurit itu.
Lari sekarang. Jangan tidur malam ini."

Tapi kata-kata hanyalah pasir
di antara roda sejarah
yang melindas apa pun selain keputusan.

Aku mencoba menyelipkan
surat kecil ke sakunya,
tulisan tanganku sendiri:
"Sejarahmu bisa diubah.
Kami menunggumu di masa depan
dalam mural yang tak akan selesai."
Tapi tangannya menolak
seperti tubuh yang tahu
akhir cerita
dan tetap memilihnya.

Aku adalah mesin waktu yang rusak,
berputar di antara mungkin
dan tidak pernah.
Waktu menolakku dengan halus
seperti debu yang enggan menempel
pada marmer makam.

Dan saat Tan ditangkap,
aku berdiri di antara para bayangan
yang tahu lebih dulu,
tapi tak diizinkan menyentuh apa-apa.

Kami berbisik di celah-celah buku teks
yang sudah dilaminasi diam.
Kami menggigil, bukan karena dingin,
tapi karena segala upaya adalah gema
yang tak pernah sampai.

Lalu mimpi itu pecah.
Dan pagi datang dengan berita yang sama:
Tan Malaka masih mati,
dan aku masih hidup,
memanggul kesia-siaan
seperti ransel yang tak pernah dibuka.

Pemalang, 3 Juli 2025

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...