Skip to main content

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨

Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal.

Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia.

Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip dengan versi serias: pertemuan aneh dengan seorang perempuan bernama Sore (Sheila Dara), yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Tetapi seiring waktu, narasi mulai menyimpang dari versi lama. Sore pingsan setelah bertengkar, lalu kita masuk ke dalam dunia dari sudut pandang dirinya, dan di sinilah film mulai menjadi jauh lebih kompleks.

Berulang kali, Sore bangun di momen yang sama. Setiap kali ia membuka mata, ia mencoba memperkenalkan diri, "Aku Sore, istri kamu dari masa depan." Setiap kali pula, ia berusaha mengubah hidup Jo agar menjadi lebih baik. Namun, upaya itu selalu gagal, dan ia kembali ke awal, seperti tokoh dalam video game yang terjebak di satu level tak berkesudahan. Pola ini terjadi berulang-ulang, dan meskipun mungkin bagi penonton terasa repetitif, Di situlah letak kekuatan narasi: menggambarkan betapa berulang-ulangnya kegagalan Sore dalam mengubah hidup Jo, sekeras apa pun ia mencoba. Repetisi itu menegaskan bahwa cinta, bahkan yang datang dari masa depan, tak cukup untuk mengubah seseorang yang belum siap diubah. Dan pada akhirnya, film ini menunjukkan bahwa perubahan sejati hanya bisa lahir dari dalam diri sendiri. Ini terbukti ketika Jo, meskipun tak mengingat Sore secara utuh, mulai berubah: hidupnya perlahan menjadi lebih baik, lebih sadar, lebih tenang. Seolah jejak emosional yang samar pun cukup menjadi pemantik kesadaran.

"Jika aku harus hidup sepuluh ribu kali, aku akan selalu memilihmu."

Dalam satu titik, Sore berhenti bangun kembali di samping Jo. Tapi jejak dirinya tertinggal. Ingatannya, atau lebih tepatnya, sensasi akan keberadaannya, membekas dalam jiwa Jonathan. Ia berubah perlahan. Berhenti merokok, meninggalkan alkohol, mulai olahraga, bahkan kembali ke Jakarta dan menggelar pameran fotografi bertema perubahan iklim. Menariknya, di antara foto-foto salju dan kutub utara yang penuh kebekuan, ada satu foto matahari terbenam: sunset.

Dan akhirnya, dalam pameran itulah, mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, di dunia nyata.

Di sinilah aku merasa film ini mematahkan ekspektasi klise tentang "perjalanan waktu". Banyak yang menyebut Sore: Istri dari Masa Depan sebagai film tentang time traveler, namun aku merasa itu terlalu sempit untuk menjelaskan relasi antara Sore dan Jonathan. Mereka bukan dua orang yang bertemu karena mesin waktu, tetapi karena semesta menyisakan kenangan-kenangan samar, semacam residu emosional dari kehidupan yang belum terjadi. Mungkin inilah cara film ini ingin mengatakan bahwa cinta sejati bisa menembus batas waktu, bahkan sebelum pertemuan pertama terjadi.

Bagiku, konsep itu justru lebih dalam daripada sekadar lompatan waktu. Hubungan mereka dibangun bukan oleh peristiwa konkret, tetapi oleh fragmen-fragmen emosi yang terekam di alam bawah sadar. Seperti kutipan dalam film ini:

"Ada tiga hal yang tidak dapat dibatalkan oleh waktu: masa lalu, rasa sakit, dan kematian."

Sore tidak benar-benar "hidup" di masa lalu Jonathan, tetapi rasa sakitnya, usahanya, dan cintanya menciptakan jejak yang mengubah hidup seseorang secara nyata. Begitu mereka akhirnya bersalaman dan berkenalan di pameran itu, potongan-potongan ingatan mereka saling melengkapi. Emosi mereka menjadi utuh. Seakan-akan mereka akhirnya sadar: "Oh, selama ini aku merindukan kamu, bahkan sebelum aku tahu siapa kamu."

Momen itu menyadarkanku bahwa mungkin, cinta bukan soal logika waktu. Cinta adalah tentang keberadaan yang kita rasakan, meski tak bisa dijelaskan. Tentang bagaimana dua jiwa bisa saling mengenal sebelum saling menyapa.

Setelah film berakhir, aku duduk dalam diam. Perasaan kosong, tapi bukan karena kecewa. Lebih karena sesuatu yang sebelumnya mengisi hati, tiba-tiba ditarik kembali. Seperti kita baru saja kembali dari mimpi yang sangat indah, tapi tahu bahwa itu tidak nyata.

Dan aku teringat satu kutipan lagi, yang bagiku menjadi inti dari semuanya:

"Tau gak kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tapi langit selalu menerima senja apa adanya."

Itulah hubungan Jonathan dan Sore. Penuh luka, berulang, dan kadang menyakitkan. Tapi selalu ada penerimaan. Seperti langit pada senja. Film ini adalah senja yang tidak menuntut jawaban logis, hanya meminta untuk dirasakan: perlahan, dan dalam diam.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...