Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya.
Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi.
Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong.
Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang:
saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka.
Yang Tertinggal di Ujung Detak
Ada jeda yang tak bisa kututup
antara denyut pertama yang tak pernah penuh
dan tangisan yang tak sempat lahir.
Namamu hanya sempat jadi bisik
di sela-sela doa yang kami patahkan setengah jalan.
Istriku menggenggam perutnya seperti menggenggam waktu
yang retak tanpa peringatan.
Dan aku
menjadi dinding yang tak boleh runtuh,
menjadi bahu yang pura-pura cukup lebar
untuk menampung segala gemuruh yang tak bisa ia sebut.
Malam-malam, aku bicara dengan udara
seolah kau menggantung di antara molekulnya:
"Maaf, Nak…
kami tak cukup kuat untuk menahanmu tetap di sini."
Dan sunyi menjawab dengan dingin yang tak bisa kupeluk.
Tapi pagi tetap datang,
dan aku tetap berdiri.
Mengaduk teh untuk ibumu
menata ulang selimut di kursi
mengubur air mata di sela-sela punggung tangannya yang lelah.
Kita bertiga: dalam bentuk yang tak pernah lengkap
tetap berjalan.
Pemalang, 2 Juli 2025
Comments
Post a Comment