Skip to main content

Mengapa Saya Tak Pernah Benar-Benar Tenang Menggunakan AI

Belakangan ini, saya semakin sering merasa bahwa AI bukan lagi sekadar alat bantu. Ia sudah naik kelas, menjadi semacam kebutuhan. Hampir semua mahasiswa yang saya temui mengerjakan tugas dengan bantuan AI. Di dunia kerja, hal yang sama terjadi. Menulis, menganalisis, merangkum, bahkan mengambil keputusan, semua bisa diserahkan pada mesin.

Awalnya saya juga menikmati kemudahan itu. Siapa yang tidak? AI terasa seperti rekan kerja yang tidak pernah lelah, tidak banyak bertanya, dan selalu siap membantu. Tapi lama-lama, muncul kegelisahan yang sulit saya abaikan: kalau semua ini terus berlanjut, akankah AI suatu hari dianggap sebagai kebutuhan primer?

Pertanyaan itu bukan muncul dari ketakutan berlebihan, melainkan dari pengalaman sehari-hari. Saya melihat bagaimana proses berpikir mulai dipersingkat, bahkan dipotong. Bukan lagi "bagaimana saya memahami persoalan ini", melainkan "bagaimana cara saya menuliskan prompt ini ke AI agar jawabannya sesuai harapan saya."

Di titik itu, saya teringat satu kutipan Tom Nichols dalam buku Matinya Kepakaran:

"Belum pernah sebelumnya begitu banyak orang memiliki akses terhadap begitu banyak pengetahuan, namun begitu menolak untuk mempelajari apa pun."


Kutipan ini terasa seperti cermin. Kita hidup di zaman ketika pengetahuan tersedia di mana-mana, tapi keinginan untuk benar-benar belajar justru semakin tipis. AI, tanpa disadari, mempercepat proses itu. Bukan karena AI jahat, tapi karena kita terlalu senang diberi jalan pintas.

Saya tidak sedang mengklaim diri sebagai orang yang paling rajin berpikir. Justru sebaliknya. Saya juga bagian dari mereka yang tergoda oleh kepraktisan. Tapi dari situlah kegelisahan ini muncul. Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah saya masih berpikir, atau hanya mengelola hasil berpikir mesin?

Jika AI benar-benar menjadi kebutuhan primer di masa depan, maka ia akan mengikuti hukum permintaan. Semakin banyak orang bergantung, semakin tinggi nilainya. Dan ketika nilai naik, akses gratis akan perlahan ditarik. Pengalaman pribadi saya membuktikan itu.

Dulu, saat melakukan analisis fundamental ataupun teknikal saham, saya sering menggunakan aplikasi RTI Bisnis. Gratis, cukup lengkap, dan yang paling penting, memberi ruang belajar. Saya bisa melihat rasio-rasio, membandingkan data, melakukan beberapa analisa di dalam tampilan candle stick, tanpa harus merasa sedang "membeli pengetahuan". Tapi sekarang, sebagian besar fitur penting itu hanya bisa diakses lewat versi premium. Mau tak mau, saya harus membayar jika ingin mendapatkan informasi yang dulu tersedia secara bebas.

Di situ saya sadar: pengetahuan, ketika sudah menjadi kebutuhan, akan selalu berakhir sebagai komoditas.

Dan saya melihat pola yang sama sedang terbentuk pada AI. Hari ini kita masih bisa mengaksesnya secara gratis, meski dengan keterbatasan. Tapi bayangkan ketika AI benar-benar menjadi tulang punggung pendidikan, pekerjaan, bahkan pengambilan kebijakan. AI versi "penuh" pasti akan berbayar. Yang gratis hanyalah versi ringkas, dangkal, dan terbatas.

Artinya, ke depan, bukan hanya terjadi kesenjangan ekonomi, tetapi juga kesenjangan kognitif. Mereka yang mampu membayar akan memiliki akses pada kecerdasan buatan yang lebih canggih, lebih analitis, lebih tajam, lebih strategis. Sementara yang lain harus puas dengan sisa-sisa kecerdasan yang sudah disederhanakan.

Ironisnya, di saat yang sama, kita juga menghadapi apa yang Tom Nichols sebut sebagai matinya kepakaran. Bukan karena para ahli menghilang, tetapi karena proses menjadi ahli dianggap tidak lagi penting. Mengapa harus membaca buku, memahami konteks, atau meragukan kesimpulan, jika AI bisa menyajikan jawaban yang terdengar masuk akal dalam hitungan detik?

Saya semakin sering melihat orang yang percaya penuh pada jawaban AI, tanpa bertanya dari mana kesimpulan itu datang. Tanpa rasa curiga. Tanpa keinginan untuk memverifikasi. Seolah-olah selama jawabannya rapi dan meyakinkan, maka ia cukup benar.

Padahal, berpikir bagi saya selalu melibatkan keraguan. Melibatkan salah paham. Melibatkan proses bolak-balik yang melelahkan. AI tidak mengalami itu. Ia tidak ragu. Ia tidak bimbang. Ia tidak gelisah. Dan justru di sanalah manusia seharusnya tinggal: di wilayah yang tidak selalu pasti.

Saya tidak menolak AI. Saya menggunakannya. Saya memanfaatkannya. Tapi saya juga takut jika suatu hari saya tidak lagi tahu batas antara dibantu dan digantikan. Antara berpikir dan sekadar meminta jawaban.

Mungkin masalah utamanya bukan pada AI yang semakin cerdas, melainkan pada manusia yang semakin enggan bersusah payah. Ketika AI menjadi kebutuhan primer, risikonya bukan sekadar soal mahalnya akses, melainkan hilangnya kebiasaan berpikir itu sendiri.

Dan jika itu benar-benar terjadi, barangkali yang mati bukan hanya kepakaran, tetapi juga keberanian manusia untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...