Skip to main content

'Till Forever Falls Apart' dan Awal Aku Jatuh Cinta ke Ashe Music

Beberapa waktu lalu, aku pernah nulis tentang FINNEAS di blog ini: musisi jenius yang nggak cuma punya suara enak, tapi juga lihai banget ngeracik lagu buat dirinya sendiri dan orang lain. Tapi kali ini, aku pengin bahas sahabat sekaligus partner kolaborasinya yang nggak kalah keren, yaitu Ashe.

Aku pertama kali tahu Ashe gara-gara dia duet sama Finneas di lagu 'Till Forever Falls Apart. Dari awal lagu itu diputar, aku langsung berhenti ngapa-ngapain. Suara mereka berdua tuh cocok banget, kayak dua warna yang beda tapi kalau disatuin jadi lukisan yang pas. Lagunya sendiri juga ngena banget, tentang dua orang yang tahu hubungan mereka mungkin nggak akan selamanya, tapi tetap milih jalanin sepenuh hati. Jujur, dari situ aku langsung kepo: siapa sih Ashe?

Ternyata Ashe ini solois cewek asal Amerika yang punya gaya musik indie-pop yang unik, ada sentuhan klasiknya, tapi tetap kekinian. Dan yang paling aku suka dari dia: lirik-lirik lagunya tuh kayak ngasih suara ke perasaan-perasaan yang susah diungkapin. Dari hasil stalking dan dengerin beberapa lagunya, aku langsung jatuh cinta ke Moral of the Story. Ini mungkin lagu dia yang paling terkenal, tapi bukan berarti overhyped. Justru menurutku, lagu ini jujur banget. Tentang kegagalan, patah hati, dan bagaimana kita belajar dari semuanya… tapi juga tentang menerima bahwa kadang hal-hal buruk itu ya harus kejadian.

Setelah itu aku dengerin Save Myself, dan rasanya makin relate. Lagu ini tuh kayak reminder lembut tapi tegas bahwa kita punya hak buat nolong diri sendiri dulu, sebelum terus-terusan ngasih energi buat orang lain yang bahkan nggak tahu cara ngejaga kita. Terus ada juga Me Without You, yang bunyinya tuh bittersweet banget, kayak lega tapi juga masih ada sisa perih. Semua lagunya punya benang merah: jujur, personal, dan nggak takut nunjukin luka.

Tapi yang paling bikin aku seneng akhir-akhir ini adalah: Ashe dan Finneas bikin band bareng! Namanya The Favors. Gila, aku nggak nyangka kolaborasi mereka bakal sejauh ini. Udah keluar juga single perdana mereka yang judulnya The Little Mess You Made. Pertama kali denger, rasanya kayak balik lagi ke vibe Till Forever Falls Apart, tapi versi lebih playful. Tetep emosional, tetep jujur, tapi ada semacam chemistry baru yang lebih bebas karena sekarang mereka berdua jalanin proyek ini sebagai band, bukan cuma fitur di lagu satu sama lain.

Lagu itu sendiri, menurutku, bercerita tentang sisa-sisa dari seseorang yang pernah ada di hidup kita, semacam kekacauan kecil yang ditinggalin. Nggak selalu negatif sih, tapi tetap terasa. Dan Ashe menyanyikannya dengan gaya khas dia: effortless tapi dalem. Dipaduin sama aransemen ala Finneas, jadilah lagu yang meskipun baru, tetap terasa familiar.

Jadi ya… itu kenapa aku makin suka Ashe. Dia bukan tipe musisi yang cuma nyari trending atau viral doang, tapi bener-bener punya suara (dalam arti yang sesungguhnya) yang dia pakai buat nyeritain hal-hal yang sering kita rasain tapi nggak tahu gimana ngomongnya. Dan sekarang, lewat The Favors, kayaknya dia lagi masuk ke bab baru dalam kariernya. Dan aku excited banget buat ngikutin terus.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...