Skip to main content

Yang Telah Lalu, Kupeluk Diam-diam di 12 Juni

Hari ini, usiaku tepat 29 tahun.

Angka yang tidak kecil, tapi juga belum bisa dibilang tua. Tapi entah kenapa, ada rasa… seperti sedang berdiri di antara banyak hal yang belum sempat kulakukan, dan banyak hal yang sudah harus kupikul. Kadang merasa masih muda, tapi di waktu lain, merasa sudah terlalu jauh dari titik awal.

Tapi aku masih di sini. Masih bernapas. Masih hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini.

Aku ingin menulis sesuatu malam ini. Bukan untuk pamer pencapaian, bukan juga untuk sekadar merayakan ulang tahun. Tapi lebih ke... pengingat kecil, bahwa aku pernah sampai di titik ini dengan penuh luka dan cerita yang tidak singkat.

Aku ingat masa-masa sekolah dulu, penuh tawa, banyak teman, dan penuh harapan. Rasanya hidup masih seperti lembar kosong yang tinggal diisi hal-hal hebat. Waktu itu, aku mulai suka baca buku, nulis-nulis kecil, dan mulai punya mimpi jadi "orang besar" suatu hari nanti. Tapi hidup tidak semulus ekspektasi anak SMA. Di akhir masa putih abu-abu, aku mulai lebih banyak berpikir, mulai idealis, mulai mikir masa depan, mulai ngerasa bahwa mungkin hidup gak akan gampang buatku.

Setelah lulus, aku kuliah. Tapi aku biayai sendiri, aku sambil kerja. Jadi waiters rumah makan. Jadi cleaning service di rumah sakit. dan di situlah tantangan sebenarnya dimulai. Semester 3 kuliah kena layoff dari tempat kerja, gak punya simpanan uang, gak kuat bayar, akhirnya harus berhenti. Bukan karena malas, tapi karena memang gak sanggup. Dan waktu itu, rasanya kayak dunia berhenti. Kayak semua harapan buyar. Tapi aku gak bisa lama-lama tenggelam. Aku harus bertahan.

Akhirnya aku putuskan pergi ke Jakarta. Merantau. Nyari peluang baru. Di sana, aku kerja jadi staff gudang. Hidup seadanya. Sering bingung, sering capek. Tapi Jakarta ngajarin banyak hal. Ngajarin aku untuk terus bertahan, bahkan saat gak ada yang tahu kamu lagi berjuang.

Setelah beberapa waktu, aku pulang. Mulai dari nol lagi. Sempat kerja serabutan, sampai akhirnya dapat kerja di minimarket. Di titik itu, aku ngerasa, "Kalau gak mulai sekarang, kapan lagi?" Jadi aku mutusin buat kuliah lagi, dari awal, di kampus yang berbeda. Dan kali ini, alhamdulillah... bisa selesai.

Setelah lulus, aku kerja jadi staff administrasi. Gak lama kemudian, aku lolos jadi perangkat desa. Waktu itu belum tahu akan ke mana hidup membawaku. Tapi satu hal yang pasti: aku gak lagi lari dari proses.

Aku juga pernah merasa kecil di antara mereka yang tampak lebih "jadi": lulus tepat waktu, langsung kerja mapan, atau dapat posisi strategis. Sementara aku... ya, aku merangkak pelan, tersandung-sandung, tapi gak pernah berhenti.

Di tengah perjalanan itu, aku ketemu dia. Perempuan yang sekarang jadi istriku.

Saat kami kenal, aku masih kerja di minimarket. Belum punya apa-apa, belum jadi siapa-siapa. Tapi dia gak peduli itu. Dia percaya padaku. Dia dampingi aku bukan karena aku sudah sukses, tapi justru saat aku masih sedang merangkak. Dia bantu doa, support waktu, ngasih aku ruang buat belajar, dan yang paling penting: dia sabar banget nemenin semua prosesku.

Hari ini, hampir 3 tahun kami menikah. Dan kami sudah punya anak satu, perempuan. Doaku buat dia sederhana: semoga tumbuh jadi perempuan kuat, suka baca, suka nulis, punya idealisme, tapi juga bijak, dan gak gampang nyerah kayak bapaknya dulu. Atau bahkan, semoga jauh lebih baik dari kami, orang tuanya.

Dan tahun ini, aku sampai juga di titik yang dulu cuma jadi doa: lolos CPNS, dengan jabatan auditor pula.

Mungkin buat sebagian orang ini bukan pencapaian besar. Tapi buatku… ini semacam bukti. Bahwa doa-doa yang pernah kukirimkan di malam-malam gelisah itu, gak sia-sia. Tuhan memang selalu dengar. Tapi caranya kadang gak bisa kita tebak. Kadang lewat jalan yang bikin capek, bikin nyerah, bahkan bikin marah. Tapi akhirnya, semua sampai di waktu yang tepat. Bukan waktu yang kita mau, tapi waktu yang kita butuh.

Dulu aku sering mikir, hidup itu kayak perlombaan. Harus cepat, harus duluan. Tapi makin ke sini, aku sadar: hidup itu lebih mirip perjalanan. Kita jalan bareng waktu, bukan saling salip. Dulu aku terlalu idealis, keras kepala. Sekarang aku masih idealis, tapi lebih bisa nerima kalau semua perlu waktu. Kalau semua butuh jatuh-bangun.

Terima kasih untuk bapak dan mama, yang meskipun aku jarang bilang langsung, aku sayang kalian. Terima kasih juga buat adik-adikku, semoga sehat selalu. Dan terima kasih sebesar-besarnya untuk istriku. Kamu adalah bagian paling penting dari perjalanan ini.

Jujur aja, aku gak nyangka bisa sampai di titik ini. Tapi aku juga tahu, ini bukan akhir. Masih banyak yang harus dikejar. Masih banyak hal yang ingin kuberi untuk keluarga kecilku.

Dan siang tadi, aku juga dapat kejutan ulang tahun dari teman-teman kantor di Irbansus Inspektorat Pemalang. Kebetulan kami sedang ada kegiatan di hotel Grand Wijaya Pemalang, dan di sela-sela agenda yang cukup padat, mereka menyempatkan diri memberi kejutan kecil yang terasa begitu hangat. Sebuah kue, tawa-tawa ringan, dan ucapan yang tulus.

Di mata orang lain mungkin itu sederhana, tapi buatku, itu mewah. Mewah karena aku pernah ada di titik yang sangat sepi. Karena aku tahu, tidak semua tempat kerja menghadirkan rasa "pulang" seperti itu. Terima kasih, kawan-kawan. Bukan hanya atas kejutan hari ini, tapi karena sudah jadi bagian dari perjalanan baruku di dunia yang dulu terasa terlalu tinggi untuk kugapai.

Malam ini, aku cuma ingin berhenti sejenak. Duduk. Menatap ke belakang. Dan bilang ke diri sendiri:

Terima kasih ya, udah bertahan sejauh ini.

Kalau nanti capek lagi, ingat aja: kita pernah jatuh lebih parah, tapi bisa bangkit. Kita pernah ngerasa semuanya gelap, tapi akhirnya nemu cahaya juga.

Selamat ulang tahun, diriku. Kita belum sampai, tapi kita sudah jauh.

Pemalang, 12 Juni 2025

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...