Hari ini, usiaku tepat 29 tahun.
Angka yang tidak kecil, tapi juga belum bisa dibilang tua. Tapi entah kenapa, ada rasa… seperti sedang berdiri di antara banyak hal yang belum sempat kulakukan, dan banyak hal yang sudah harus kupikul. Kadang merasa masih muda, tapi di waktu lain, merasa sudah terlalu jauh dari titik awal.
Tapi aku masih di sini. Masih bernapas. Masih hidup. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk hari ini.
Aku ingin menulis sesuatu malam ini. Bukan untuk pamer pencapaian, bukan juga untuk sekadar merayakan ulang tahun. Tapi lebih ke... pengingat kecil, bahwa aku pernah sampai di titik ini dengan penuh luka dan cerita yang tidak singkat.
Aku ingat masa-masa sekolah dulu, penuh tawa, banyak teman, dan penuh harapan. Rasanya hidup masih seperti lembar kosong yang tinggal diisi hal-hal hebat. Waktu itu, aku mulai suka baca buku, nulis-nulis kecil, dan mulai punya mimpi jadi "orang besar" suatu hari nanti. Tapi hidup tidak semulus ekspektasi anak SMA. Di akhir masa putih abu-abu, aku mulai lebih banyak berpikir, mulai idealis, mulai mikir masa depan, mulai ngerasa bahwa mungkin hidup gak akan gampang buatku.
Setelah lulus, aku kuliah. Tapi aku biayai sendiri, aku sambil kerja. Jadi waiters rumah makan. Jadi cleaning service di rumah sakit. dan di situlah tantangan sebenarnya dimulai. Semester 3 kuliah kena layoff dari tempat kerja, gak punya simpanan uang, gak kuat bayar, akhirnya harus berhenti. Bukan karena malas, tapi karena memang gak sanggup. Dan waktu itu, rasanya kayak dunia berhenti. Kayak semua harapan buyar. Tapi aku gak bisa lama-lama tenggelam. Aku harus bertahan.
Akhirnya aku putuskan pergi ke Jakarta. Merantau. Nyari peluang baru. Di sana, aku kerja jadi staff gudang. Hidup seadanya. Sering bingung, sering capek. Tapi Jakarta ngajarin banyak hal. Ngajarin aku untuk terus bertahan, bahkan saat gak ada yang tahu kamu lagi berjuang.
Setelah beberapa waktu, aku pulang. Mulai dari nol lagi. Sempat kerja serabutan, sampai akhirnya dapat kerja di minimarket. Di titik itu, aku ngerasa, "Kalau gak mulai sekarang, kapan lagi?" Jadi aku mutusin buat kuliah lagi, dari awal, di kampus yang berbeda. Dan kali ini, alhamdulillah... bisa selesai.
Setelah lulus, aku kerja jadi staff administrasi. Gak lama kemudian, aku lolos jadi perangkat desa. Waktu itu belum tahu akan ke mana hidup membawaku. Tapi satu hal yang pasti: aku gak lagi lari dari proses.
Aku juga pernah merasa kecil di antara mereka yang tampak lebih "jadi": lulus tepat waktu, langsung kerja mapan, atau dapat posisi strategis. Sementara aku... ya, aku merangkak pelan, tersandung-sandung, tapi gak pernah berhenti.
Di tengah perjalanan itu, aku ketemu dia. Perempuan yang sekarang jadi istriku.
Saat kami kenal, aku masih kerja di minimarket. Belum punya apa-apa, belum jadi siapa-siapa. Tapi dia gak peduli itu. Dia percaya padaku. Dia dampingi aku bukan karena aku sudah sukses, tapi justru saat aku masih sedang merangkak. Dia bantu doa, support waktu, ngasih aku ruang buat belajar, dan yang paling penting: dia sabar banget nemenin semua prosesku.
Hari ini, hampir 3 tahun kami menikah. Dan kami sudah punya anak satu, perempuan. Doaku buat dia sederhana: semoga tumbuh jadi perempuan kuat, suka baca, suka nulis, punya idealisme, tapi juga bijak, dan gak gampang nyerah kayak bapaknya dulu. Atau bahkan, semoga jauh lebih baik dari kami, orang tuanya.
Dan tahun ini, aku sampai juga di titik yang dulu cuma jadi doa: lolos CPNS, dengan jabatan auditor pula.
Mungkin buat sebagian orang ini bukan pencapaian besar. Tapi buatku… ini semacam bukti. Bahwa doa-doa yang pernah kukirimkan di malam-malam gelisah itu, gak sia-sia. Tuhan memang selalu dengar. Tapi caranya kadang gak bisa kita tebak. Kadang lewat jalan yang bikin capek, bikin nyerah, bahkan bikin marah. Tapi akhirnya, semua sampai di waktu yang tepat. Bukan waktu yang kita mau, tapi waktu yang kita butuh.
Dulu aku sering mikir, hidup itu kayak perlombaan. Harus cepat, harus duluan. Tapi makin ke sini, aku sadar: hidup itu lebih mirip perjalanan. Kita jalan bareng waktu, bukan saling salip. Dulu aku terlalu idealis, keras kepala. Sekarang aku masih idealis, tapi lebih bisa nerima kalau semua perlu waktu. Kalau semua butuh jatuh-bangun.
Terima kasih untuk bapak dan mama, yang meskipun aku jarang bilang langsung, aku sayang kalian. Terima kasih juga buat adik-adikku, semoga sehat selalu. Dan terima kasih sebesar-besarnya untuk istriku. Kamu adalah bagian paling penting dari perjalanan ini.
Jujur aja, aku gak nyangka bisa sampai di titik ini. Tapi aku juga tahu, ini bukan akhir. Masih banyak yang harus dikejar. Masih banyak hal yang ingin kuberi untuk keluarga kecilku.
Dan siang tadi, aku juga dapat kejutan ulang tahun dari teman-teman kantor di Irbansus Inspektorat Pemalang. Kebetulan kami sedang ada kegiatan di hotel Grand Wijaya Pemalang, dan di sela-sela agenda yang cukup padat, mereka menyempatkan diri memberi kejutan kecil yang terasa begitu hangat. Sebuah kue, tawa-tawa ringan, dan ucapan yang tulus.
Di mata orang lain mungkin itu sederhana, tapi buatku, itu mewah. Mewah karena aku pernah ada di titik yang sangat sepi. Karena aku tahu, tidak semua tempat kerja menghadirkan rasa "pulang" seperti itu. Terima kasih, kawan-kawan. Bukan hanya atas kejutan hari ini, tapi karena sudah jadi bagian dari perjalanan baruku di dunia yang dulu terasa terlalu tinggi untuk kugapai.
Malam ini, aku cuma ingin berhenti sejenak. Duduk. Menatap ke belakang. Dan bilang ke diri sendiri:
Terima kasih ya, udah bertahan sejauh ini.
Kalau nanti capek lagi, ingat aja: kita pernah jatuh lebih parah, tapi bisa bangkit. Kita pernah ngerasa semuanya gelap, tapi akhirnya nemu cahaya juga.
Selamat ulang tahun, diriku. Kita belum sampai, tapi kita sudah jauh.
Pemalang, 12 Juni 2025
Comments
Post a Comment