Skip to main content

#Puisi: Menuliskan Sajak Terakhir Sebagai Puisi Yang Akan Kau Baca Berkali-Kali

Pangkal Juni dan sisik
awan yang tak bosan
berwarna-warni.
Sajak ini sebagai
terakhir, menjadi puisi
tempat kau menyaringkan kesunyian
atau perasaan-perasaan yang akrab
saat kau merasuki hujan yang
tak kau sukai dengan
alasan demam atau sesuatu
yang kau takuti.
.
Matamu pernah bercerita
panjang lebar padaku.
Aku perlahan menyukai kesendirian
kotamu terlalu ramai
untuk dinyaringkan sajak-sajakku
yang lebih ramai dari
klakson kemacetan atau
sirine polisi dan ambulan
.
Menulis sajak ini. Aku tengah
berjalan di jembatan
gantung, sambil membayangkannya
menjadi puisi di bungkus nasi
yang akan kau beli
esok hari
.
Masa kecilku. Kuhabiskan
bermain tanah, membangun kota
dan rumai bambu di
gigir pantai.
Saat sendirian
kubayangkan lagi hal itu
dan kuberikan padamu.
Aku melihat senyummu
berkali-kali, kaupeluk aku
dalam ingatanku. Aku
bahagia
.
menulis sajak ini. Belum selesai
baru kusadari di sampingku
Ibuku mengamati yang
wajahnya selalu lebih bijak
dari hujan di bulan ini.
Dia bertanya, "Seindah jatuh cinta"
Aku diam dan kusembunyikan kertasku
dia pun pergi. Dan kulempar
airmata ke jendela tiga kali
sampai bersih.
.
Kulanjutkan sajak ini. Kau ketenangan
hujan Juni dan kecerahan Juli.
Setelah tadi
kutulis sajak ini, sembunyi di
dalam cermin lemari. Sebab
kutahu. Ibu akan ke sini
merapikan isi lemari, pakaian
dan berdandan rapi. Lalu
kukatakan cantik sebelum
dia pergi. Dengan begitu
telah kujawab tanyanya
dengan puisi. Tapi ini
rahasiaku. Tiap hari
dalam sajak ini
.
Menulis sajak ini. Aku masih
berjalan di jembatan gantung
sambil memutardengar
nasehat-nasehat Ibuku yang
sering kurekam saat dengannya
Salah satunya seperti ini,
"Tuhan tidak benci pendosa
Tuhan hanya tidak suka
orang-orang putus asa."
Kuputar berkali-kali
dan aku mulai berlari
di jembatan ini atau
sajak ini.
Perihal cita-cita dan kepuasan
aku menyukai cara rayap
menjelaskan. Lepas-terbang
dari gumuk-gumuk ke awan.
(aku masih menulis sajak ini
sebagai puisi, yang harus
kau baca berkali-kali)
.
Pangkal Juni dan sisik
awan warna-warni, tempat
musim membohongi ratusan puisi.
Hujan bukan musim sepi
kemarau masih di jedanya
mengisi-isi. Masih.
Dan masih
tidak dengan sajak ini!
Tiba-tiba sebelum bait ini kau
meyakinkan diri, bahwa
puisi adalah pertemuan pertama
dan perpisahan yang
dirasakan sekali. Lalu
dinikmati berkali-kali.
Dalam ingatan atau
kenangan.
Aku amini.
.
Sajak ini telah selesai.
Kuharap kau membacanya
sebagai puisi. Jika tidak,
akan kuhapus ingatanmu
tentangku sampai
kata pertama. Dan katakan
sajak ini puisi! Setelah aku
pergi.
Tenanglah!
Aku hanya tidur
dan menikmati nafas terakhir
bait ini.
05.06

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...