Skip to main content

KHGT: Ikhtiar Muhammadiyah Menyatukan Kalender Islam Dunia

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Muhammadiyah lagi-lagi menjadi salah satu yang paling awal dalam memperingati pergantian bulan, bahkan tahun dalam kalender Islam. Tapi ada yang cukup menarik di tahun ini. Muhammadiyah memperkenalkan metode baru dalam penentuan awal bulan Hijriah, yang disebut Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Buat sebagian orang, bahkan buat sebagian warga Muhammadiyah sendiri, istilah ini mungkin masih terdengar asing. Tapi sebenarnya, KHGT ini adalah lompatan besar dalam perjalanan panjang ijtihad Muhammadiyah di bidang penanggalan Islam.

Selama puluhan tahun terakhir, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal (HHWH). Syaratnya sederhana: selama hilal (bulan sabit pertama) sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam (walau cuma 0 derajat), maka dianggap cukup untuk memasuki bulan baru. Tapi selama ini, perhitungannya masih berbasis wilayah Indonesia saja.

Nah, melalui KHGT, pendekatan itu berubah. Cakupan geografisnya jadi diperluas, melewati batas-batas negara. Intinya, kalau di mana pun di muka bumi ini hilal sudah wujud di atas ufuk atau sebelum matahari terbenam, maka seluruh dunia, termasuk Indonesia, ikut masuk ke tanggal baru. Tidak lagi tergantung pada posisi hilal di Indonesia saja.

Contoh gampangnya gini: misal di Indonesia, saat matahari terbenam tanggal 29 bulan Hijriah, posisi hilal belum cukup tinggi, belum di atas 0 derajat. Tapi kalau di belahan bumi lain, misalnya di Afrika Utara atau Timur Tengah, hilal sudah wujud di atas ufuk, maka seluruh umat Islam di dunia termasuk Indonesia tetap akan ikut masuk ke bulan baru.

KHGT ini membawa semangat baru: kesatuan waktu umat Islam di seluruh dunia. Tanpa dibatasi zona waktu, negara, atau wilayah.

Kalau dibandingkan dengan metode pemerintah Indonesia yang memakai kriteria MABIMS (Majlis Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura), KHGT memang cukup jauh berbeda. Kriteria MABIMS, yang dipakai pemerintah sampai sekarang, mensyaratkan minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Inilah salah satu penyebab klasik kenapa sering terjadi beda tanggal antara Muhammadiyah dan pemerintah, terutama dalam penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Secara garis besar, KHGT memang tetap berbasis hisab, tapi dengan cakupan global dan kriteria yang lebih sederhana: asal hilal sudah di atas ufuk di mana pun di dunia, ya sudah, masuk bulan baru.

Tujuan akhirnya jelas: menyatukan kalender umat Islam sedunia. Muhammadiyah sadar, selama ini perbedaan tanggal antara negara-negara Islam (bahkan antar ormas dalam satu negara) sering bikin umat bingung. Ada yang sudah salat Id, ada yang masih puasa. Ada yang sudah lebaran, ada yang belum. KHGT adalah ikhtiar untuk menyatukan itu.

Tapi, tentu saja, jalan menuju penerimaan global masih panjang. Muhammadiyah juga paham betul tantangan yang bakal dihadapi:

1. Belum ada konsensus internasional. Mayoritas negara Islam masih pakai metode masing-masing. Bahkan Arab Saudi pun tetap setia dengan rukyatul hilal.

2. Literasi masyarakat soal KHGT masih rendah. Jangankan masyarakat umum, di internal Muhammadiyah sendiri pun masih banyak yang belum paham betul apa itu KHGT.

3. Faktor politik dan ego nasionalisme. Urusan penetapan hari besar keagamaan seringkali dianggap sebagai simbol kedaulatan negara. Jadi wajar kalau tiap negara punya "keputusan sendiri".

Meski begitu, menurut saya pribadi, langkah Muhammadiyah ini patut diapresiasi. Perubahan besar memang tidak pernah instan. Butuh waktu, konsistensi, dan proses edukasi panjang.

KHGT adalah bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang sosial, pendidikan, atau kesehatan, tapi juga terus melahirkan gagasan-gagasan baru dalam bidang keagamaan. Ini bentuk ijtihad modern, respons atas tantangan global umat Islam hari ini.

Dan satu hal yang tak boleh dilupakan: apapun perbedaan metode yang ada, semoga umat tetap bisa menjaga ukhuwah, saling menghormati, dan tidak terjebak dalam perpecahan. Karena sejatinya, di balik semua metode itu, niatnya tetap sama: mengikuti syariat dengan sebaik-baiknya.

Selamat Tahun Baru 1447 Hijriah. Semoga kita semua diberi keberkahan, kedamaian, dan semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...