Kadang aku berpikir, hidup ini bukan hanya soal bernapas atau tidak. Tapi soal seberapa lama kita menunggu giliran kita dipanggil oleh sesuatu yang tak kasat mata: sesuatu yang mungkin disebut orang sebagai maut, atau takdir, atau kematian.
Aku tahu, ini terdengar seperti naskah dari film Final Destination, tapi percayalah… aku mengalaminya. Dua kali.
Dan dua-duanya masih menghantui pikiranku.
Pertama,
Tahun lalu. Jalanan lengang, langit gelap dan sedikit penerangan. Aku sedang mengendarai motor, mencoba menyalip sebuah truk besar dari sisi kanan. Waktu itu aku merasa aman. Rasanya perhitungan sudah matang. Tapi hanya dalam hitungan detik, semuanya berubah.
Dari arah berlawanan, mobil melaju kencang. Panik. Refleks. Aku banting setir ke kiri.
Sialnya, badan motorku tersenggol truk. Tubuhku sempat terhimpit. Memar. Tapi… aku tidak jatuh.
Itu bagian paling aneh. Kalau aku jatuh ke kanan, mungkin tubuhku sudah ringsek disambar mobil. Kalau jatuh ke kiri, mungkin aku tinggal nama, tergilas ban truk yang tak mungkin sempat mengerem.
Tapi aku tetap berdiri. Motorku tetap berjalan.
Waktu seolah melambat. Aku bahkan sempat mendengar suara hati sendiri yang pelan dan getir:
"Aku mati sekarang, ya?"
Tapi tidak. Bukan saat itu.
Kedua,
Baru-baru ini, aku kembali bertemu dengan kejadian tak masuk akal.
Pagi hari, perjalanan seperti biasa. Tidak ngebut. Jalanan cukup sepi. Tiba-tiba, leherku seperti ditarik paksa. Ada kabel wifi menjuntai rendah di tengah jalan. Terlalu kecil untuk terlihat dari jauh.
Aku terjatuh. Kaki, lutut, dan leher terluka. Berdarah. Tapi aku hidup.
Dan lagi-lagi, pikiranku langsung kemana-mana.
Bagaimana kalau itu kabel listrik?
Bagaimana kalau aku melaju lebih cepat?
Bagaimana kalau kabel itu memotong leherku?
Yang lebih mengguncang, beberapa detik setelahku, ada bapak-bapak mengantar anaknya naik motor, tanpa helm. Jika aku telat 5 detik, mereka yang kena. Dan aku tahu, luka yang kualami mungkin ringan dibandingkan jika mereka yang terkena lebih dulu.
Mereka tak berhenti menolongku. Mungkin tak tahu apa yang terjadi. Tapi tak apa. Mungkin ini bagian dari "rencana".
Dua kejadian ini membuatku berpikir: apakah aku sedang ditunda? Apakah ada "giliran" yang secara misterius terus bergeser, menunggu waktunya tiba?
Dalam Final Destination, kematian digambarkan bukan sebagai makhluk berwajah seram, tapi sebagai kekuatan tak terlihat yang sabar. Ia mencatat. Ia menunggu. Jika kau lolos sekali, dia akan datang lagi dengan cara lain. Dan aku mulai merasa… mungkin aku sudah ada dalam daftar itu.
Tapi entah mengapa, aku selalu selamat.
Setidaknya untuk sekarang.
Jika suatu saat nanti tulisan ini dibaca, dan aku sudah tak ada, anggap saja ini semacam surat pamit. Atau mungkin, catatan dari seseorang yang pernah dua kali melihat wajah kematian dari dekat, dan masih diberi kesempatan untuk menulis.
Bukan karena aku tahu kapan akan mati. Tapi karena aku tahu, giliran itu pasti akan datang. Dan ketika datang, semoga aku cukup siap.
Seperti kutipan dari film Final Destination, yang entah kenapa kini terasa dekat:
"Maybe it's just my turn."
Comments
Post a Comment