Skip to main content

Tangisan di Awal Perjalanan

Di antara catatan lama & puisi-puisi yang kutulis di masa lalu, ada satu yang masih membekas, “Tangisan di Awal Perjalanan.” Puisi itu kutulis saat pertama kali dengan berat hati meninggalkan rumah, merantau ke Ibukota, dengan hati yang berat dan mata yang sembab. Puisi itu ditulis dalam kondisi rapuh dan gemetar, bukan dengan ketenangan, melainkan dengan perasaan seorang yang terpaksa memulai hidup baru karena jalan lain dirasa telah tertutup.

Aku lupa mencantumkan titimangsa pada puisi itu. Namun, aku ingat jelas rasa yang menyertainya: campuran antara putus asa, takut, & bingung. Waktu itu, aku baru saja kehilangan kesempatan kuliah setelah dua semester berjalan. Bukan karena aku tidak mau belajar, tapi karena aku tak sanggup bayar semesteran. Pekerjaan sambilanku saat itu tak lagi bisa kuandalkan karena kontrakku diputus. Tanpa pekerjaan, tanpa biaya, & tanpa arah yang jelas, aku tahu satu-satunya pilihan yang tersisa adalah pergi.

Merantau ke Jakarta bukanlah impianku, melainkan keputusan untuk bertahan hidup. Di Kota asalku, mencari pekerjaan yang layak bukan hal mudah. Di sisi lain, aku merasa malu kepada teman-teman yang kuliahnya lancar, yang hidupnya berjalan sesuai rencana. Sementara aku harus menyusun ulang semua harapan dari nol, dari reruntuhan yang tak sempat aku persiapkan.

Di sinilah puisi di atas lahir. Dalam perjalanan yang sunyi, di tengah gemuruh keraguan & ketakutan, aku menangis. Bait-baitnya adalah cermin dari isi hatiku yang waktu itu penuh kegamangan. Waktu itu, aku tak tahu ke mana langkah ini akan membawaku, tapi aku tahu aku tak boleh berhenti. Tangisan itu menjadi saksi, bahwa aku pernah rapuh, tapi tidak menyerah.

Bertahun-tahun berlalu sejak waktu itu. Jalan yang kulalui tidak selalu mulus. Ada masa-masa aku merasa tidak cukup kuat, tidak cukup pintar, tidak cukup pantas. Tapi perlahan, semua luka itu mengajarkanku untuk bertahan. Aku mulai menerima bahwa tidak semua orang memiliki jalan yang sama, tapi semua orang bisa memilih untuk terus melangkah. Aku mulai berdamai dengan masa lalu, serta mengubah rasa malu menjadi pemicu untuk membuktikan, aku juga bisa bertumbuh.

Kini, aku berada di babak baru kehidupan. Sebuah perjalanan baru yang tidak lagi diawali dengan tangisan, melainkan dengan senyuman. Besok, 5 Mei 2025, aku akan dilantik sebagai CPNS. Bukan berarti aku sudah berhasil atau sukses, karena sebenarnya aku masih jauh dari kata "sampai". Aku masih harus banyak belajar, banyak memperbaiki diri, & lebih memahami makna pengabdian. Ini bukan akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

Perjalanan ini mengajarkanku satu hal penting: bahwa jatuh bukan akhir dari segalanya. Tangisan bukan berarti lemah, tapi bagian dari proses tumbuh. Dan keberhasilan bukan semata hasil dari keberuntungan, tapi buah dari keberanian untuk terus berjalan bahkan ketika segalanya terasa mustahil.

Puisi lamaku ini akan selalu kusimpan, bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai pengingat bahwa aku pernah bertarung, dan aku memilih untuk terus melangkah, dan ternyata sudah sejauh ini.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...