Skip to main content

Pelan Tapi Pasti, Aku Menuju Mimpiku Sendiri

Kutipan dari J.S. Khairen ini begitu membekas dalam pikiran saya. Seolah menjadi pengingat bahwa tidak ada yang salah dengan bermimpi besar, bahkan ketika mimpi itu terasa tidak masuk akal sekalipun. Karena sejatinya, mimpi adalah benih dari kenyataan, asal kita tak berhenti menanam dan merawatnya.

Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, saya pernah bercita-cita menjadi auditor eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP). Impian itu tumbuh sejak masa kuliah D3, ketika saya mulai memahami betapa pentingnya peran seorang auditor dalam menjaga integritas laporan keuangan dan proses bisnis. Namun saya memilih jalur D3 bukan karena membatasi mimpi, melainkan sebagai jalan cepat agar bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Saat itu, kondisi memaksa saya untuk realistis, tapi hati kecil saya tetap menyimpan mimpi yang lebih jauh.

Saya masih ingat bagaimana seorang dosen yang sangat saya hormati, yang juga menjadi pembimbing saya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), pernah menyampaikan keyakinannya bahwa saya seharusnya mengambil jenjang S1. Menurut beliau, kapasitas dan potensi saya cocok untuk Jenjang S1, bukan D3. Saat itu saya hanya bisa mengiyakan dengan hati yang penuh harap. Saya memang punya rencana, jika kelak ada rezeki, saya ingin melanjutkan ke jenjang S1, bahkan S2. Dalam hati saya sudah menetapkan bidang impian: Akuntansi Forensik. Mimpi itu terasa besar, tapi nyata dalam benak saya.

Kini, ketika saya telah lolos sebagai CPNS dan bertugas sebagai Auditor di Inspektorat, saya melihat bahwa jalan menuju mimpi itu justru mulai terbuka dari arah yang tak terduga. Saya memang tidak menjadi auditor eksternal seperti rencana awal, tetapi saya tetap berada di jalur profesi auditor. Bahkan lebih dari itu, saya tergabung di unit Irbansus, sebuah unit yang menangani audit-audit investigatif, ranah yang erat kaitannya dengan dunia forensik akuntansi yang sejak lama saya impikan.

Di unit ini, saya tidak hanya dituntut untuk teliti dan objektif, tetapi juga memiliki keteguhan untuk menelusuri kebenaran di balik laporan yang mencurigakan. Saya merasa bahwa peran ini sangat dekat dengan cita-cita saya sejak awal: membantu negeri ini membersihkan diri dari para koruptor dan mereka yang mengambil apa yang bukan haknya.

Tahun depan, insyaAllah, jika status saya sudah menjadi PNS, saya berencana melanjutkan pendidikan S1 Akuntansi. Dari sana, perlahan namun pasti, saya akan mengejar jenjang S2 Akuntansi Forensik. Mimpi itu mungkin masih jauh untuk terwujud, tapi hari ini saya berdiri di pijakan yang mulai mendekatkannya.

Melihat kembali perjalanan ini, saya sadar bahwa mimpi memang tidak selalu datang dengan jalur yang lurus. Kadang ia mengambil rute yang berliku, kadang ia menjauh agar kita belajar lebih banyak sebelum benar-benar siap untuk mencapainya. Tapi selama kita tidak berhenti berjalan, selama kita percaya dan berusaha, mimpi itu akan menemukan jalannya sendiri.

Dan kini saya percaya, tak ada yang salah dengan menulis mimpi-mimpi besar. Bahkan jika semesta sempat tersenyum geli melihat keinginan kita, biarlah. Karena pada waktunya nanti, semesta pun akan ikut bertanya-tanya:
"Kalau mimpi anak ini terwujud, apa yang akan terjadi pada dunia, ya?"

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...