Skip to main content

Mantra untuk Nayanika

Setiap nama adalah doa. Dalam satu rangkaian kata, kita menyematkan harapan, impian, dan kadang kenangan yang begitu personal. Saat menamai anakku Nayanika Adrishta Bestari, aku tidak sekadar memilih nama indah dari segi bunyi dan arti, melainkan juga meletakkan sebagian kecil dari diriku: perjalananku, pencarianku, bahkan fragmen-fragmen rasa yang pernah aku simpan lama dalam diam.

Meski aku bukan penggemar fanatik Kunto Aji, ada satu fase dalam hidupku ketika album Mantra-Mantra terasa seperti teman. Lagu-lagu seperti Rehat, Sulung, Pilu Membiru, hingga Saudade, menjadi semacam penanda emosi: tentang lelah yang perlu diistirahatkan dan luka yang perlu dimaklumi.

Dari semua itu, Saudade menyimpan tempat tersendiri. Bukan hanya karena melodinya yang tenang namun dalam, tetapi karena satu larik dalam lagu itu menyentuh sisi lain dalam diriku sebagai orang tua. Kunto Aji menulis: “Jadilah besar bestari, dan manfaat tuk sekitar.” Kalimat itu sederhana, namun mengandung makna yang luas. Ada keinginan agar anak bertumbuh bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Agar tak hanya menjadi 'besar' dalam ukuran dunia, tetapi juga dalam rasa: mampu memberi manfaat bagi sekitar, sekecil apa pun caranya.

Itulah kenapa aku memilih kata Bestari sebagai bagian dari nama anakku. Kata yang tak hanya berarti 'cerdas', tetapi juga mencerminkan keanggunan dalam berpikir dan bersikap. Aku ingin dia menjadi pribadi yang bukan hanya pandai, tetapi juga lembut dan bijak dalam menapaki hidupnya.

Nama lengkapnya adalah Nayanika Adrishta Bestari. Nayanika berarti "memiliki mata yang indah" atau bisa juga ditafsirkan sebagai seseorang yang melihat dunia dengan cara yang berbeda. Adrishta berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "takdir" atau "keberuntungan yang tak terlihat". Lalu Bestari, seperti sudah kusebutkan, adalah cerminan dari harapan akan kebijaksanaan dan manfaat. Dengan nama ini, aku ingin ia menjadi seseorang yang memandang dunia dengan mata dan hati yang jernih, berjalan dalam takdirnya yang dipenuhi keberuntungan, dan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menyalakan cahaya di sekitarnya.

Di luar album Mantra-Mantra, lagu Mercusuar dan Pengingat juga pernah menemani perjalananku sebagai manusia dewasa yang sedang belajar menerima diri sendiri, masa lalu, dan proses menjadi orang tua. Lagu-lagu itu tak hanya memberi hiburan, tetapi menjadi pengingat diam-diam bahwa setiap orang sedang bertahan, sedang berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya. Aku rasa, menjadi orang tua juga seperti itu: tak ada yang benar-benar siap, tapi setiap hari adalah upaya untuk menjadi pantas bagi kehadiran seorang anak.

Dan di titik inilah makna Saudade benar-benar menancap. Ia adalah rindu yang tak selalu punya bentuk, rasa kehilangan yang manis, dan cinta yang tetap tinggal meski objeknya tak lagi ada. Dalam memberi nama anakku, aku pun membawa sebagian dari saudade itu. Mungkin pada hal-hal yang tak sempat kuberikan pada diriku sendiri di masa lalu, kini ingin kutitipkan sebagai harapan pada dirinya: dengan penuh kasih, bukan beban.

Maka, walaupun aku tidak menyebut diriku penggemar Kunto Aji, karyanya telah menjadi bagian dari narasi kecil dalam hidupku. Dari larik dalam Saudade, lahirlah nama yang kupilih dengan penuh pertimbangan dan cinta: Nayanika Adrishta Bestari. Nama yang, semoga, menjadi mantra lembut yang mengiringinya berjalan dalam dunia yang luas, rumit, namun juga indah ini.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...