Skip to main content

Lewat Evan Hansen, Aku Merasa Sedikit Lebih Dekat pada Diriku Sendiri

Aku masih ingat betul bagaimana semuanya berawal. Bukan dari review film, bukan dari trailer yang berseliweran di media sosial, tapi justru dari lagu. Dari Spotify, lebih tepatnya. Saat itu aku sedang dalam fase jatuh hati dengan karya-karya Finneas.

Lalu aku menemukan A Little Closer. Lagu itu tidak terlalu populer, tidak viral, tidak banyak dibahas. Tapi ada sesuatu di bait pertamanya yang langsung menusuk:

"Spent so many seasons lost inside my mind / Lost inside my mind / Like a message in a bottle / I thought nobody would find."

Aku memutar lagu itu berulang-ulang tanpa benar-benar tahu dari mana asalnya. Sampai akhirnya aku cari tahu, dan Spotify menunjukkan bahwa lagu itu adalah bagian dari soundtrack film Dear Evan Hansen. Sebuah film musikal yang, jujur, sebelumnya tidak ada dalam radar pencarianku. Tapi rasa penasaran yang ditumbuhkan oleh satu lagu itu cukup kuat untuk membawaku mencari filmnya.

Dan pada 2023, aku menontonnya. Sendirian. Di malam yang cukup hening.

Dear Evan Hansen bukan film yang sempurna. Tapi aku tidak menontonnya untuk mencari kesempurnaan. Aku menontonnya sebagai seseorang yang, pada masa-masa tertentu dalam hidup, pernah merasa seperti Evan Hansen: tak terlihat, canggung, penuh rasa takut, dan ingin sekali dipahami tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Evan menulis surat untuk dirinya sendiri, lalu surat itu ditemukan dan disalahartikan. Dari sana, hidupnya berubah, dibalut kebohongan yang awalnya kecil tapi kemudian membesar. Mungkin memang tidak semua orang akan memaklumi keputusan-keputusan Evan. Tapi aku bisa mengerti kenapa ia melakukannya. Kadang, keinginan untuk diterima bisa menenggelamkan logika. Kadang, kita terlalu lapar akan pengakuan, sampai-sampai kita rela menjadi seseorang yang bukan diri kita.

Yang paling membekas buatku, tentu saja, adalah lagu-lagunya. Rasanya seperti seluruh soundtrack-nya menyusun ulang perasaanku yang berantakan jadi bentuk yang bisa aku pahami. Lagu Waving Through the Window, misalnya, tentang merasa seperti terjebak di balik kaca, melihat dunia yang terus berjalan tanpa tahu bagaimana caranya ikut masuk. Atau If I Could Tell Her, yang membicarakan keberanian yang tidak pernah cukup untuk mengungkapkan isi hati.

Dan tentu saja, You Will Be Found, lagu yang, buatku, seperti doa yang dinyanyikan dalam kegelapan:

"Even when the dark comes crashing through / When you need a friend to carry you / And when you're broken on the ground / You will be found."

Aku tidak tahu sudah berapa kali aku memutar lagu itu ketika hari terasa begitu berat. Saat pikiran kacau, saat hati penuh beban yang sulit dijelaskan, lagu itu seakan menjadi pengingat bahwa aku tidak sendiri. Bahwa mungkin, seperti surat dalam botol yang terapung-apung di laut, pada akhirnya aku akan sampai ke seseorang. Bahwa aku akan ditemukan.

Setelah menonton film ini, aku tidak tiba-tiba menjadi pribadi yang lebih baik, atau seketika jadi lebih kuat. Tapi aku menjadi sedikit lebih jujur pada diri sendiri. Bahwa aku butuh didengar. Bahwa aku juga punya luka yang kadang kusimpan terlalu dalam. Bahwa tidak apa-apa merasa rapuh. Dan bahwa, mungkin yang paling penting aku tidak harus memikul semuanya sendiri.

Lagu A Little Closer kembali terngiang di akhir film, seperti penutup yang manis dan lembut. Salah satu baitnya yang paling menenangkan buatku adalah ini:

"Well, today, today / What felt so far away feels a little closer."

Kalimat itu sederhana, tapi sangat mengena. Mungkin kita tidak selalu bisa sembuh dalam sehari. Mungkin kita tidak langsung tahu arah pulang. Tapi jika hari ini bisa terasa sedikit lebih ringan, sedikit lebih dekat ke tempat yang hangat, itu sudah cukup. Itu adalah awal yang baik.

Dear Evan Hansen tidak hanya memberiku pengalaman menonton, tapi semacam pelampiasan diam-diam dari rasa yang tak pernah selesai aku definisikan. Bukan hanya karena aku tertarik dengan isu kesehatan mental, tapi juga karena aku pernah merasa seperti bagian dari cerita itu. Dan sampai hari ini, saat lagu-lagunya kembali terdengar di daftar putarku, aku diingatkan lagi: ada luka, tapi juga ada harapan. Dan setiap hari, mungkin kita bisa merasa… sedikit lebih dekat.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...