Di antara deretan lagu lawas yang kadang dipandang kuno oleh generasi TikTok, ada satu lagu yang seakan menolak tua dalam ingatanku: Goodbye Yellow Brick Road oleh Elton John.
Beberapa tahun lalu, saat masih bekerja di minimarket, aku menemukan versi 1 hour loop lagu itu di YouTube. Dan entah kenapa, hari itu aku putar. Dan besoknya, aku putar lagi. Dan hari-hari berikutnya, ya, bisa ditebak, lagu itu menjadi soundtrack shift-ku. Sejujurnya, aku tidak tahu apakah itu membuat pelanggan jadi lebih santai atau justru mempertanyakan eksistensinya di lorong sabun mandi. Tapi satu hal pasti: aku menemukan tempat berteduh dalam lirik dan melodi yang mengalun terus-menerus, seperti mantera yang tidak ingin berhenti.
Kalimat “You know you can’t hold me forever…” terasa seperti peluit wasit bagi hidupku yang saat itu mulai jenuh dan butuh pergantian babak. Aku tidak sedang berada di tempat yang buruk, bukan itu alasannya. Aku bekerja di lingkungan yang cukup stabil dan dihargai, tapi ada semacam suara kecil dalam diri yang berkata: “Kamu bisa lebih dari ini. Bukan karena tempatmu sekarang kurang baik, tapi karena kamu butuh ruang bertumbuh.” Dan suara itu, lama-lama, lebih keras daripada suara mesin fotokopi rusak yang terus minta isi ulang toner.
Lagu Goodbye Yellow Brick Road bercerita tentang seseorang yang meninggalkan glamornya dunia palsu, jalan megah menuju istana yang tak pernah benar-benar ia impikan. Bagi banyak orang, stabilitas dan kenyamanan bisa jadi tujuan utama. Tapi di dalam diriku, ada gelisah yang tidak bisa ditenangkan hanya dengan rasa nyaman. Gelisah itu bukan tentang materi semata, tapi tentang keinginan untuk merasa hidup, berkembang, belajar hal baru, dan mungkin, sekali-sekali, merasa gagal, lalu bangkit dengan bekal luka yang membawa makna.
Aku memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan lama dan mencoba jalur baru. Jalur ini belum tentu lebih mudah, tapi terasa lebih benar. Rasanya seperti pulang, bukan ke tempat, tapi ke niat awal. Kadang, perjalanan yang benar justru yang membuat kita gugup saat melangkah.
Kini, meskipun arah baruku belum sepenuhnya terungkap seperti apa nantinya, setidaknya aku tahu satu hal pasti: aku sudah memilih untuk jujur pada diriku sendiri. Dan buatku, itu langkah awal yang paling penting.
Entah nanti aku berada di kantor, lapangan, atau bahkan kembali ke ruang yang sunyi sambil mendengarkan lagu itu lagi, Goodbye Yellow Brick Road akan tetap jadi kompas kecil dalam langkahku. Bukan sebagai kenangan tentang masa lalu, tapi sebagai penanda bahwa aku pernah punya keberanian memilih jalan pulang, menuju versi terbaik dari diriku sendiri.
Comments
Post a Comment