Skip to main content

Bukan Hebat, Hanya Tak Mau Diam

Dari kecil, aku punya kebiasaan yang agak… idealis. Sejak SD sampai SMA, aku dikenal sebagai anak yang anti mencontek dan ogah ambil jalan pintas. Prinsipnya: kalau bisa jujur, kenapa harus licik? Walau kalau dipikir-pikir, hasilnya kadang tidak sebanding dengan perjuangan. Aku bahkan pernah masuk kelas khusus bukan karena prestasi, tapi karena nilai tryout Ujian Nasional SD tergolong menyedihkan. Iya, aku ikut kelas khusus untuk mengejar ketertinggalan, bukan karena jenius. Tapi ya sudahlah, yang penting semangat belajar, kan? Hehe

Masuk SMA, prinsipku diuji lebih serius. Waktu itu, seluruh kelas secara kolektif sepakat membeli kunci jawaban untuk Ujian Nasional. Ada dua teman lain yang juga menolak, tapi mereka memilih jalur diam-diam. Aku? Entah kenapa, merasa perlu jadi "jubir integritas". Aku menolak secara terang-terangan dan cukup vokal menyuarakan penolakan itu. Hasilnya? Dikucilkan. Bahkan sempat 'sedikit' mengalami perlakuan fisik yang tidak menyenangkan. Sedih? Iya. Tapi lebih dari itu, aku mulai sadar, menjaga integritas itu bukan perkara mudah, apalagi saat kita masih muda dan sedang ingin diterima oleh lingkungan.

Yang lucu, meskipun aku keukeuh mempertahankan prinsip, nilai UN-ku juga tidak fantastis. Aku sadar, saat itu aku bukan anak pintar yang mampu menjadikan kejujuran sebagai senjata utama untuk mengalahkan ketidakjujuran. Tapi setidaknya, aku tahu bahwa aku bisa tidur nyenyak malam itu tanpa rasa bersalah. Dan kukira, itu cukup penting.

Lompat beberapa tahun ke depan, setelah berbagai pengalaman kerja yang penuh warna, tahun ini aku resmi lolos CPNS dan menjadi bagian dari Inspektorat. Aku mengikuti pembekalan selama lima hari, dari tanggal 5 hingga 9 Mei 2025. Dari sini, aku mulai merasa bahwa aku berada di tempat yang tepat, tempat di mana integritas bukan hanya kata-kata di dinding, tapi benar-benar dijunjung dalam praktik.

Aku tidak memungkiri, sebelum masuk, aku sempat khawatir. Stigma terhadap birokrasi pemerintah kadang membuat orang idealis sepertiku merasa akan sulit bertahan lama. Ada anggapan bahwa "main mata" itu hal biasa, bahwa "asal tahu diri" adalah cara selamat. Aku sempat bertanya-tanya: apakah aku akan jadi satu-satunya yang merasa risih melihat kebiasaan buruk yang sudah dianggap normal?

Namun, selama pembekalan, kekhawatiran itu pelan-pelan luntur. Aku mulai mengenal beberapa senior yang menurut pengamatanku, punya komitmen tinggi terhadap integritas. Mereka tidak hanya cakap secara teknis, tapi juga punya cara berpikir yang kritis dan beretika. Rasanya seperti menemukan kelompok yang sama-sama ingin menjaga jalan lurus, meskipun kita semua tahu, jalan itu sering kali tidak mudah, bahkan sepi.

Ini bukan kali pertama aku bersinggungan langsung dengan isu moralitas. Di tempat kerjaku sebelumnya, aku pernah dua kali mengungkap kasus fraud yang dilakukan oleh rekan kerja, dalam dua kejadian yang berbeda, dengan modus yang juga berbeda. Aku tidak sedang main detektif-detektifan atau sok jadi pahlawan. Tapi ketika aku tahu ada yang tidak beres, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu. Aku tahu risikonya, tapi lebih takut menyesal kalau diam saja.

Menjadi bagian dari Inspektorat, aku rasa, adalah lanjutan dari perjalanan itu. Di sini, aku belajar bahwa menjadi auditor bukan hanya soal angka dan laporan, tapi soal keberanian, skeptisme profesional, dan komitmen terhadap nilai. Kami dituntut untuk tidak mudah percaya begitu saja, tapi juga tidak boleh sembrono menuduh. Kami harus jadi mata yang tajam, tapi juga hati yang bijak.

Tentu, aku masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang perlu aku pelajari: dari regulasi teknis hingga seni berkomunikasi dengan objektivitas. Tapi semangatku tetap sama: ingin menjadi orang yang bisa menjaga nurani di tengah tantangan. Aku ingin terus belajar, tumbuh, dan jadi bagian dari perubahan kecil yang mungkin dampaknya baru akan terasa di kemudian hari.

Aku percaya bahwa dunia kerja, termasuk di instansi pemerintah, masih punya banyak ruang untuk orang-orang berintegritas. Dan meskipun jalan lurus itu kadang tidak disorot dan tidak populer, aku memilih tetap berjalan di atasnya. Karena pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang bisa tidur paling tenang di malam hari.

Dan, siapa sangka, prinsip "sok idealis" yang dulu bikin aku dikucilkan, justru membawaku ke tempat yang selama ini kucari: tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura, tidak perlu ikut arus, dan tidak perlu mengorbankan nilai yang kupegang sejak kecil.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...