Skip to main content

Terlalu Singkat, Tapi Tak Pernah Sia-sia

Tahun 2013 bukan tahun yang luar biasa. Aku hanya seorang siswa biasa, menjalani hari-hari sekolah dengan ritme yang bisa ditebak. Tapi di sela-sela rutinitas itu, ada satu hal yang membuat hidup terasa lebih hangat: buku. Lebih tepatnya, novel-novel Andrea Hirata. Di antara semua karyanya, Edensor adalah yang paling membekas kala itu. Novel itu bukan hanya tentang petualangan dua sahabat keliling Eropa, tapi tentang mimpi, dan bagaimana mimpi bisa menyelamatkan jiwa dari sempitnya ruang.

Aku tidak sendirian. Di kelas yang sama, ada Imadudin, teman seperjuangan sekaligus sesama pemuja kata-kata. Dari obrolan tentang Ikal dan Arai, kami mulai bercita-cita membangun sesuatu yang lebih nyata: sebuah komunitas yang bisa menampung mereka yang mencintai sastra seperti kami.

Maka lahirlah OPSI, singkatan dari Organisasi Pecinta Sastra Indonesia. Nama yang mungkin terlalu besar untuk komunitas kecil kami, tapi justru karena itulah kami merasa harus memperjuangkannya. OPSI tidak lahir dari ruang ber-AC atau meja diskusi formal. Ia lahir di taman-taman kota, di teras masjid, di bangku-bangku perpustakaan yang sepi, tempat-tempat yang memberi ruang bagi kata-kata untuk mengalir bebas.

Kami memulai hanya berdua. Tapi perlahan, lingkaran itu membesar. Beberapa teman dari sekolah lain bergabung. Nama-nama seperti Nikmah, Ica, Uus, Mahar, dan lainnya menjadi bagian penting dari perjalanan OPSI. Kami bukan kumpulan penulis profesional. Kami hanya sekelompok remaja yang senang membaca, menulis, dan berdiskusi. Kami menyusun pertemuan-pertemuan sederhana: diskusi buku, pertukaran karya, lomba menulis cerpen untuk internal anggota yang penuh semangat walau tanpa hadiah besar. Tapi justru di kesederhanaan itulah semangat kami menyala.

Perubahan besar datang ketika kami bertemu Pak Ali, pengurus perpustakaan Masjid al-Karomah. Tanpa ragu, beliau mengizinkan kami memakai lantai dua perpustakaan sebagai tempat kegiatan rutin. Tempat itu tidak mewah, tapi cukup untuk menampung antusiasme kami. Di sana, OPSI benar-benar hidup. Rak-rak buku menjadi saksi diskusi panjang kami tentang tokoh fiksi dan kenyataan, tentang cita-cita dan realitas, tentang kata dan maknanya.

Aku sendiri adalah seorang yang dominan introvert. Keramaian sering kali melelahkanku. Tapi anehnya, aku selalu merasa punya energi baru saat berada di tengah komunitas yang membicarakan sastra. Rasanya seperti pulang ke rumah yang tak pernah aku tahu aku miliki.

Namun seperti banyak hal indah yang datang dan pergi, OPSI pun punya akhirnya sendiri. Tahun 2014, semua anggota lulus sekolah. Karena kami sebagian besar seangkatan, komunitas ini tidak sempat melakukan regenerasi. Kami tersebar: kuliah ke berbagai kota, membawa mimpi dan kata masing-masing ke tempat baru. Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada pertemuan terakhir. OPSI tidak bubar, hanya… diam. Dan dari diam itu, ia perlahan memudar.

Tapi semangatnya belum benar-benar padam.

Tahun 2017, aku secara tak terduga dan sebenarnya agak 'dipaksa': ditunjuk menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pekalongan. Aku tahu betul bahwa menghidupkan komunitas sastra atau kepenulisan bukan perkara mudah. Tapi aku juga tahu: komunitas semacam ini adalah ruang yang terlalu berharga untuk dibiarkan kosong. Maka aku mencoba merawatnya.

Dua tahun pertama, FLP Pekalongan cukup ramai. Kami mengadakan pelatihan menulis, diskusi buku, bahkan pernah menjadi tuan rumah Writing Camp FLP se-Jawa Tengah. Sebuah capaian yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku bertemu banyak penulis muda yang cerdas, penuh semangat, dan punya gairah berkarya. Tapi seperti OPSI, tantangan terbesar selalu datang dari dalam: menjaga agar nyala tetap hidup di tengah kesibukan masing-masing.

Satu per satu pengurus mulai 'menyerah'. Ada yang harus fokus kuliah, ada yang mulai bekerja, ada pula yang merasa lelah dengan ritme komunitas. Masa pandemi semakin memperparah situasi. FLP Pekalongan mulai vakum. Dan ketika aku mesti pindah domisili pada tahun 2022, aku menyerahkan tongkat estafet pada seseorang yang kupercaya bisa menghidupkannya kembali. Tapi jujur saja, aku tak lagi tahu bagaimana kabarnya sekarang.

Kini, satu dekade lebih sejak OPSI berdiri. Banyak nama tak lagi terdengar, tapi ingatannya tetap utuh. Aku masih ingat sore-sore itu: diskusi ringan dengan suara adzan sebagai latar, tawa kecil yang tak pernah terasa sia-sia.

Mungkin komunitas-komunitas ini memang tak ditakdirkan untuk bertahan lama. Tapi aku percaya: selama pernah hidup dalam hati kami, ia tak pernah benar-benar hilang. Komunitas sastra adalah ruang yang selalu bisa kembali, meski bentuknya berubah.

Sekarang, aku tidak lagi rutin hadir di forum-forum sastra. Tak lagi rajin membuat pelatihan menulis atau mengorganisir agenda komunitas. Tapi setiap kali melihat anak muda berdiskusi tentang buku di ruang publik, setiap kali melihat unggahan ajakan kopdar literasi, aku merasa seperti melihat versi kecil dari OPSI dan FLP, dalam bentuk yang lebih segar dan lebih hidup. Aku tidak mengenal mereka, mereka juga tak mengenalku. Tapi rasanya seperti bertemu kawan lama yang meneruskan jalan yang sama.

Komunitas, pada akhirnya, bukan tentang seberapa lama ia bertahan, tapi seberapa dalam jejaknya tertanam. OPSI mengajarkanku cara memulai. FLP mengajarkanku cara bertahan. Dan semua itu, secara tak sadar, membentuk diriku menjadi siapa aku hari ini: seseorang yang masih percaya bahwa kata-kata bisa merawat luka, mempertemukan jiwa, dan menghidupkan harapan.

Kalau nanti aku diminta kembali, entah ke OPSI, ke FLP, atau komunitas baru yang belum bernama, aku mungkin akan ragu-ragu di awal. Tapi aku tahu, bagian dari hatiku akan selalu siap untuk kembali: duduk di lingkaran kecil, berbincang tentang sastra, dan merawat ruang yang dulu pernah memberiku tempat pulang.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...