Skip to main content

Spiritualitas yang Feodal: Antara Kultus, Dogma, dan Kematian Akal

Serial Bidaah asal Malaysia yang baru saja tamat 15 episode menjadi sorotan publik, terutama karena mengangkat isu sensitif: bagaimana praktik feodalisme dan kultus individu bisa tumbuh subur di balik jubah agama. Di serial ini, kita diperlihatkan bagaimana seseorang bisa dipuja secara berlebihan: air cucian kakinya diminum, kakinya dicium, bahkan perintahnya dipatuhi secara mutlak, tanpa boleh dibantah.

Menariknya, kritik sosial dalam serial ini begitu tajam karena mencerminkan realitas yang masih ada, termasuk di sebagian masyarakat Jawa atau komunitas religius lainnya. Di mana guru spiritual diposisikan seperti "wakil Tuhan," dan para pengikutnya menjadi tidak bisa berpikir kritis. Ketika ada yang mempertanyakan atau mencoba membantah, langsung dibungkam dengan kalimat, "Ilmumu masih cetek," atau "Kamu belum sampai maqam makrifat.", dsb.

Pola ini sangat mirip dengan cerita dalam anime Chi: Chikyuu no Undou ni Tsuite. Anime yang mengambil setting masa inkuisisi Eropa ini menceritakan bagaimana satu per satu tokoh yang mempercayai teori heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) dibungkam dan dieksekusi oleh otoritas agama. Dimulai dari Hubert, ilmuwan tua yang memengaruhi Rafal, lalu Rafal sendiri yang akhirnya dieksekusi. Setelahnya, perjuangan dilanjutkan oleh Oczy dan Badeni. Semuanya mengalami nasib tragis karena mempertahankan kebenaran ilmiah yang bertentangan dengan dogma gereja saat itu.

Hubert, Rafal, Oczy, Badeni... mereka mati bukan karena melakukan kejahatan, tapi karena mereka berpikir dan bertanya. Persis seperti apa yang ingin disampaikan Bidaah: bahwa kebenaran bisa dianggap sebagai ancaman oleh mereka yang berkuasa atas nama agama.

Yang menyedihkan, dalam kenyataannya pun banyak orang yang alergi terhadap kritik seperti ini. Bahkan ada yang menuduh serial Bidaah sebagai propaganda Wahabi, hanya karena berani mengangkat persoalan bid'ah dan penyimpangan. Padahal, serial ini tidak sedang menyerang satu mazhab tertentu, ia sedang mengkritik penyimpangan kekuasaan berbaju spiritualitas.

Ironisnya, justru pihak-pihak yang tidak menyukai serial ini adalah mereka yang kerap mengaku paling toleran, paling Pancasilais, dan paling nasionalis. Tapi ketika ada karya yang mengkritik praktik keagamaan yang menyimpang, mereka buru-buru menuduhnya bisa ditunggangi 'kelompok tertentu', alih-alih melihat substansi kritiknya.

Padahal, dalam Islam sendiri, berpikir bukan hanya dianjurkan, ia adalah perintah langsung dari Allah. Al-Qur'an penuh dengan seruan agar manusia menggunakan akal dan merenungkan ciptaan-Nya.
Misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 219:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Atau dalam Surah Ali Imran ayat 190-191:

 إِنَّ فِي خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَـٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Ayat-ayat ini menjadi pengingat bahwa akal adalah karunia. Bukan untuk dibungkam, tapi untuk digunakan. Maka ketika ada yang melarang bertanya atau menuduh berpikir sebagai bentuk pembangkangan, sesungguhnya mereka sedang menentang ruh dari ajaran Islam itu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...