Skip to main content

Soe Hok Gie dan Jalan Sunyi itu

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.”
– Soe Hok Gie

Di dunia yang serba tergesa ini, banyak yang beranggapan, kematian di usia muda adalah hal yang menyedihkan, kehilangan kesempatan untuk menuntaskan segala impian. Namun, jika direnungkan lebih dalam, mati muda barangkali justru sebuah bentuk rahmat: terhindar dari segala kemungkinan dosa, dari kompromi yang tak terelakkan seiring bertambahnya usia, dari penghianatan terhadap idealisme.

Pandangan ini mengemuka dalam obrolan-obrolan sederhana tentang hidup, mati, dan perjalanan manusia. Dan dari titik inilah, ingatan saya melompat kepada satu nama yang begitu beresonansi dengan hal ini: Soe Hok Gie.

Saya pertama kali mengenal Gie di masa kuliah, ketika mengikuti diklat lembaga pers kampus. Sebagai bagian dari pengenalan budaya intelektual, kami mengadakan nonton bareng film Gie, sebuah film yang begitu kuat menggambarkan sosoknya: seorang muda yang jujur, keras kepala, dan setia pada idealisme, bahkan hingga ke batas-batas kesepian.

Film itu membekas. Bukan hanya karena adegan-adegan puitisnya atau narasi kritis terhadap kekuasaan, melainkan karena saya merasa menemukan semacam potret kejujuran yang langka: manusia yang tak mau berbohong kepada dirinya sendiri. Rasa penasaran membawa saya untuk membaca buku-buku Gie: Catatan Seorang Demonstran, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, dan Di Balik Lentera Merah. Dan di sana, di antara catatan-catatan harian, esai, dan surat-surat itu, Gie berbicara lebih gamblang tentang perjuangannya sebagai seorang individu.

Yang paling menarik, tentu saja, adalah bagaimana Gie sering disalahpahami. Banyak orang awam, bahkan hingga kini, melabelinya sebagai komunis. Alasannya sederhana: Gie kritis terhadap penguasa, dekat dengan gerakan mahasiswa, dan sering berbicara tentang keadilan sosial. Dalam logika masyarakat yang terbiasa dengan dikotomi "kita versus mereka", sikap kritis semacam itu segera dicurigai sebagai tanda keberpihakan kepada komunisme.

Namun sesungguhnya, jika mau membaca lebih jujur, Gie bukanlah seorang komunis. Ia tidak pernah memuja ideologi tertentu. Dalam catatannya, ia justru dengan tegas menolak fanatisme, baik dari kanan maupun kiri. Ia menulis:

“Saya kira ada banyak persamaan antara kaum kanan dan kiri. Mereka sama-sama bersedia mengorbankan manusia demi ideologi mereka.”

Gie tidak berdiri di bawah panji ideologi mana pun. Ia berdiri di bawah panji kemanusiaan. Ia tidak berjuang untuk partai, tidak mencari kekuasaan, tidak menginginkan revolusi demi kekuasaan baru. Ia hanya menginginkan masyarakat yang lebih adil, di mana manusia diperlakukan sebagai manusia, bukan alat, bukan angka statistik dalam politik.

Pilihan ini membuat hidup Gie menjadi perjalanan yang sangat sunyi. Ia terlalu "kiri" bagi kaum kanan, dan terlalu "liberal" bagi kaum kiri. Ia sendirian di dalam keramaian zaman yang hiruk-pikuk. Ia mengkritik Soekarno ketika rezim Orde Lama menindas rakyat, namun juga mengkritik militerisme yang merajalela setelah 1965. Dalam dua dunia yang saling bermusuhan, Gie menolak menjadi bagian dari keduanya.

Dalam perjalanan hidupnya, Gie lebih memilih mendaki gunung, menulis puisi, dan mencintai keheningan alam daripada berdebat tanpa ujung dalam ruang-ruang politik yang pengap. Alam baginya adalah tempat di mana manusia bisa bertemu dengan dirinya sendiri tanpa topeng, tanpa politik, tanpa kebohongan.

Ironisnya, di usianya yang ke-26, Gie meninggal justru di tempat yang paling ia cintai: di Gunung Semeru, saat mendekati hari ulang tahunnya. Sebuah kematian yang, meskipun tragis, terasa begitu puitis, seolah-olah semesta sendiri mengizinkan dia untuk berpulang sebelum idealismenya tergerus dunia.

Hari ini, di zaman ketika orang begitu mudah melabeli dan mengkotak-kotakkan, pelajaran dari Gie terasa makin penting:
Bahwa hidup yang baik bukan tentang popularitas atau kekuasaan, melainkan tentang menjaga integritas di tengah godaan untuk menggadaikannya.

Gie telah pergi muda. Tapi justru karena itu, ia terhindar dari perubahan-perubahan kompromistis yang sering kali menodai cita-cita masa muda. Ia tetap abadi sebagai sosok yang setia pada dirinya sendiri, sesuatu yang semakin langka dalam dunia yang penuh dengan topeng dan tipu daya.

Maka, ketika kita mendengar kembali "Donna Donna", lagu yang dulu menemani Gie dalam kegelisahannya, kita pun bisa membayangkan: betapa berat jalan sunyi itu, betapa mahal harga kebebasan sejati.
Dan betapa penting untuk selalu mengingat, bahwa seperti Gie, kadang menjadi manusia merdeka berarti harus berani berjalan sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...