Skip to main content

Remember That You're a Black Swan

Beberapa tahun lalu, aku pernah menulis satu kalimat pendek di bio WhatsApp dan Instagram:
“Remember that you’re a black swan.”
Kalimat itu bukan berarti aku merasa spesial. Bukan juga untuk menyatakan bahwa aku ini “unik” atau “berbeda” dari orang kebanyakan. Justru sebaliknya, itu adalah pengingat yang kutulis untuk diri sendiri, di masa aku merasa sangat biasa-biasa saja, bahkan mungkin di bawah rata-rata. Masa ketika melihat pencapaian orang lain membuatku merasa semakin jauh tertinggal, semakin kecil.

Kalimat itu kutemukan dari buku The Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb. Sebuah buku yang membahas bagaimana peristiwa besar dalam hidup seringkali datang dari arah yang tak disangka. Peristiwa yang mengubah arah hidup, tapi tidak bisa diprediksi sebelumnya. Dan sering kali, bukan karena kita pintar atau hebat, tapi karena kita cukup terbuka untuk menerima kenyataan bahwa hidup tidak akan pernah sepenuhnya bisa kita kendalikan.

“Black Swan events are things that lie outside the realm of regular expectations, carry an extreme impact, and are often only explainable in hindsight.”
– Taleb, The Black Swan

Dan begitulah hidupku selama ini. Bukan lurus. Bukan rapi. Tapi penuh belokan, putaran balik, dan jalan-jalan kecil yang mungkin orang lain anggap sebagai “wrong way.

Setelah lulus SMA, aku sempat kuliah. Hanya dua semester. Karena satu dan lain hal yang tidak bisa kuceritakan panjang lebar, kuliah itu tidak bisa kulanjutkan. Saat banyak temanku melanjutkan ke kampus impian, aku malah berhenti di tengah jalan. Saat mereka aktif di organisasi, aku mulai bekerja serabutan.

Dari menjadi pelayan rumah makan, cleaning service rumah sakit, debt collector, hingga pramuniaga minimarket. Semua kulakukan demi bertahan. Demi bisa tetap hidup, sambil mencari cara untuk bangkit kembali.

Baru tahun 2018 aku bisa mulai kuliah lagi, dari nol, di kampus lain. Di saat teman seangkatan sudah punya gelar dan pekerjaan tetap, aku kembali jadi mahasiswa semester satu. Jelas, aku sempat merasa malu. Tapi seiring waktu, aku sadar: mungkin memang jalan hidupku tidak harus sama seperti mereka.

“You want to be a lion, not a gazelle. You want to be the one who benefits from randomness, not the one who suffers from it.”
– Taleb, Antifragile

Jika hidup mengajarkanku satu hal, itu adalah ini: tidak semua ketertinggalan adalah kekalahan. Tidak semua kemunduran adalah kegagalan. Kadang, kita hanya sedang mengambil ancang-ancang.

Pengalaman-pengalaman “tidak keren” yang dulu membuatku malu, ternyata kini justru membentuk cara pandangku. Membuatku lebih kuat. Lebih bisa memahami dunia kerja. Lebih tangguh ketika menghadapi tekanan.

Tanpa pengalaman sebagai perangkat desa, mungkin aku tidak akan pernah mengenal dinamika birokrasi pemerintahan dari dekat. Tapi sejujurnya, dulu aku menjalani pekerjaan itu bukan karena merasa “cocok”, apalagi karena ambisi. Itu lebih karena keadaan. Aku butuh pekerjaan: lebih tepatnya butuh income, dan kebetulan ada kesempatan. Sederhana saja. Tapi justru dari situ, aku belajar banyak: tentang sistem, tentang pelayanan publik, dan tentang realitas sosial di level paling bawah.

Dan dari titik itu juga, pelan-pelan aku mulai menata ulang harapan. Seleksi CPNS yang awalnya terasa mustahil, mulai kupandang sebagai satu peluang yang layak dicoba. Bukan karena merasa lebih pintar dari yang lain, tapi karena ingin mencoba memperbaiki arah.

Ketika akhirnya dinyatakan lulus CPNS, aku menyambutnya dengan rasa syukur. Bukan sesuatu yang membuatku merasa “wah” atau lebih hebat dari orang lain, karena pada akhirnya, ini hanyalah satu dari banyak jalan panjang yang mungkin masih penuh tikungan ke depan.

Seperti lirik lagu The Long and Winding Road milik The Beatles:

“The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear,
I've seen that road before…”

Aku tahu perjalanan ini belum apa-apa. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, aku bisa menatap ke depan dan berkata: aku tidak lagi tersesat. 

Kadang, jalan itu terasa lama dan memutar. Tapi ia tetap membawaku ke tempat-tempat yang tak pernah kubayangkan. Lolos seleksi ini bukanlah akhir perjalanan. Ini mungkin justru pintu awal dari tanggung jawab yang lebih besar, dari proses belajar yang sebenarnya.

Kalau pun ada yang patut dirayakan, itu mungkin bukan hasil akhirnya, melainkan keberanianku untuk tetap bertahan dan mencoba, meski seringkali ragu, bahkan takut gagal.

“Wind extinguishes a candle and energizes fire.”
– Taleb, Antifragile

Apa yang dulu membuatku rapuh, kini justru menjadi sumber kekuatan. Aku tak lagi takut dengan ketidakpastian, karena aku tahu aku bukan lilin: aku api.

Dan barangkali, itulah yang dimaksud Taleb dengan menjadi antifragile, bukan hanya bisa bertahan dari guncangan, tapi tumbuh karenanya. Menjadi pribadi yang tidak sekadar “baik-baik saja” saat diuji, tapi justru jadi lebih tajam, lebih tahan banting, lebih siap melangkah.

Hidup tidak pernah menjanjikan jalan lurus. Tapi kadang, jalan berliku itu membawa kita ke tempat-tempat yang lebih indah. Kita hanya perlu percaya. Bukan pada rencana kita sendiri, tapi pada proses yang sedang kita jalani.

Karena mungkin, seperti kata Mitch Albom:

“Sometimes, the path you choose isn’t really a choice. It’s where you are meant to be.”

Dan hari ini, aku tahu: aku berada di jalan yang memang untukku. Tidak lebih baik dari orang lain, tidak lebih buruk. Hanya berbeda. Dan itu tidak apa-apa.

Aku bukan angsa putih. Tapi aku juga bukan kesalahan.
Aku adalah black swan. Dan aku belajar untuk berdamai dengan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...