Refleksi Seorang Muslim atas Mangkatnya Paus Fransiskus: Dari Duka, Film Conclave, hingga Kerinduan pada Kesatuan Umat Islam
Sebagai seorang Muslim, saya turut berduka cita atas mangkatnya Paus Fransiskus: pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang dikenal dengan sikapnya yang humanis, sederhana, dan penuh kasih. Meski berbeda keyakinan, saya meyakini bahwa rasa kemanusiaan melampaui batas keyakinan. Duka atas kepergian seorang tokoh besar dunia adalah duka bersama, terutama ketika ia meninggalkan warisan yang menginspirasi toleransi, dialog antaragama, perdamaian dunia, dan keadilan sosial.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan duka yang tulus, saya tidak bisa menahan sebuah refleksi pribadi yang muncul di benak saya: kepergian Paus Fransiskus mengingatkan saya pada film Conclave (2024), sebuah film yang secara apik menyajikan momen-momen dramatis pemilihan Paus setelah kematian seorang pemimpin gereja.
Film Conclave adalah potret kekuasaan, intrik, keyakinan, dan pencarian kebenaran. Dalam ruang-ruang megah namun sunyi Vatikan, para kardinal dunia berkumpul dalam konklaf tertutup. Mereka membawa harapan, ketegangan, dan kadang ego masing-masing. Namun dari semua itu, yang muncul bukan sekadar siapa yang akan memakai jubah putih, tetapi bagaimana proses spiritual, politis, dan moral berpadu dalam memilih pemimpin umat Katolik sedunia.
Film ini membuat saya merenung dalam. Bagaimana jika Islam, hari ini, masih memiliki sistem kepemimpinan hirarkis seperti yang dimiliki Gereja Katolik? Bagaimana jika setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasalam, sistem kekhalifahan bisa terus lestari hingga zaman modern, tidak terpecah karena konflik internal, politik dinasti, atau kolonialisme?
Kita tahu, dalam sejarah Islam, setelah wafatnya Rasulullah, para sahabat memilih Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama. Lalu berlanjut ke Umar, Utsman, dan Ali. Sistem ini berjalan dengan kekuatan moral dan legitimasi keumatan, walaupun tak jarang dibumbui konflik politik dan perbedaan tafsir. Kekhalifahan kemudian bertransformasi ke dalam bentuk kekuasaan dinasti: Umayyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Namun, seiring runtuhnya Kesultanan Utsmaniyah pasca Perang Dunia I, sistem ini hilang dari panggung sejarah formal. Dunia Islam menjadi fragmentaris, terpecah dalam ratusan negara-bangsa, masing-masing dengan kepentingan dan kebijakan sendiri.
Padahal, Al-Qur’an telah menekankan pentingnya kesatuan umat:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Andai saja sistem kekhalifahan atau kepemimpinan global Islam itu tetap eksis, bisa jadi umat Islam hari ini memiliki satu komando moral dan spiritual. Tentu, kita tak sedang membayangkan sebuah kekuasaan absolut yang represif, melainkan sebuah otoritas moral yang menyatukan umat lintas negara dan mazhab. Bayangkan jika ada seorang pemimpin Islam yang setara dalam wibawa dan akhlak dengan Paus Fransiskus: pemimpin yang dihormati oleh semua golongan, yang mampu menyuarakan keadilan untuk Palestina, kemanusiaan di Sudan, atau penderitaan umat Rohingya, bukan sebagai reaksi politis semata, tapi sebagai suara utama umat Islam dunia.
Saya tahu, pemikiran ini bisa ditentang dan ditolak para pembaca tulisan ini. Sebab, realitas umat Islam sangat kompleks. Perbedaan mazhab, geopolitik, kepentingan negara, bahkan ego sektarian menjadikan wacana "kekhalifahan global" seolah mustahil atau malah dituduh sebagai utopia yang berbahaya. Namun, saya mencoba melihat dari sisi yang lain: bahwa kerinduan terhadap persatuan, terhadap satu suara yang membawa keteduhan dan kepemimpinan moral, adalah sesuatu yang manusiawi. Ini bukan soal kekuasaan, tetapi tentang keutuhan spiritual dan solidaritas.
Film Conclave memperlihatkan bahwa bahkan dalam ruang-ruang elit pemilihan pemimpin spiritual pun, selalu ada dinamika politik. Namun ada satu hal yang membedakan: sistem itu tetap bertahan, diatur, dan dihormati oleh seluruh umat Katolik di dunia. Mereka boleh berbeda budaya, tapi tetap bersatu dalam satu pusat otoritas.
Mungkin, dunia Islam tidak perlu meniru model Katolik secara struktural. Tapi semangat kebersamaan, nilai keterpimpinan yang adil, dan pusat moral yang disepakati, itulah yang layak kita renungkan dan rindukan. Kematian Paus Fransiskus bukan hanya duka bagi umat Katolik, tapi juga sebuah cermin bagi umat beragama lain: tentang pentingnya pemimpin yang menjembatani, bukan memecah; yang mengayomi, bukan mencengkeram; dan yang melayani, bukan dilayani.
Comments
Post a Comment