Skip to main content

Pamit.

Setiap perjalanan pasti punya titik awal dan akhir. Tanggal 17 Mei 2022, saya diberi amanah untuk menjabat sebagai Kepala Dusun Brobahan. Hari itu jadi awal dari sebuah perjalanan yang penuh warna: kadang melelahkan, kadang menantang, tapi juga sangat membentuk saya secara pribadi.

Hari ini, saya resmi mengakhiri amanah tersebut. Bukan karena rasa lelah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena saya harus melanjutkan pengabdian di tempat yang baru. Meski berat, keputusan ini saya ambil dengan harapan baik, baik untuk diri saya pribadi maupun untuk Brobahan ke depannya.

Selama hampir tiga tahun terakhir, saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari roda pemerintahan di Desa Majakerta. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Kepala Desa dan seluruh rekan Perangkat Desa atas kerja sama, dukungan, dan arahannya selama ini. Saya banyak belajar dari cara panjenengan semua bekerja: tentang tanggung jawab, kesabaran, dan pentingnya melayani dengan hati.

Saya juga tak bisa tidak menyampaikan rasa terima kasih kepada Ketua RT, para tokoh masyarakat, para kader, dan seluruh warga Dusun Brobahan. Terima kasih atas kepercayaannya, atas diskusi-diskusi malam, gotong royong di lapangan, hingga obrolan ringan yang ternyata jadi penguat di tengah lelah. Semua itu bukan sekadar rutinitas, tapi menjadi bagian dari kenangan yang akan saya bawa ke mana pun saya melangkah.

Saya percaya, siapa pun nanti yang akan meneruskan amanah ini, akan mampu membawa Brobahan ke arah yang lebih baik. Dengan kekompakan yang sudah terbentuk, saya yakin dusun ini akan terus jadi tempat yang harmonis, aman, dan penuh semangat gotong royong.

Akhir kata, saya pamit bukan karena lupa, bukan pula karena menyerah, tapi karena perjalanan saya kini memasuki bab baru. Namun, Brobahan akan selalu menjadi bagian dari cerita hidup saya. Terima kasih atas segalanya. Semoga kita bisa berjumpa lagi, dalam suasana yang lebih baik, di waktu yang berbeda.

Dengan hormat dan penuh rasa syukur,
Muhammad Idris Arjanggi

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...