Barangkali, kita terlalu sering berpihak sebelum mencoba memahami. Dan mungkin, tanpa sadar, kita sedang membangun kekejaman yang sama: dalam bentuk yang berbeda.
Beberapa waktu lalu saya menonton ulang Grave of the Fireflies. Film animasi Jepang karya Isao Takahata ini bukan sekadar cerita tentang dua kakak-adik yang berjuang hidup di tengah perang. Ia adalah ratapan lirih dari sisi sejarah yang sering tak ingin kita tengok: penderitaan warga sipil Jepang ketika negerinya hancur dihujani bom.
Tapi ketika saya membuka komentar-komentar netizen Indonesia, ada kalimat yang cukup sering muncul:
“Gak jadi sedih setelah ingat Jepang pernah jajah Indonesia.”
Dan jujur, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan reaksi itu. Kita tumbuh dengan kisah kekejaman Jepang: tentang romusha, jugun ianfu, tentang kamp penyiksaan dan kesewenang-wenangan. Tapi yang membuat saya mengernyit adalah saat rasa dendam historis itu dipakai untuk menumpulkan empati, bahkan kepada anak-anak dalam cerita fiksi, yang sejatinya adalah representasi korban tak berdosa.
Hal serupa terjadi saat kita bicara tentang Holocaust. Banyak komentar sarkastik yang berseliweran, semacam:
“Kalau lihat Israel sekarang, jadi mikir… mungkin Hitler harusnya sekalian aja bersihin Yahudi.”
Biasanya dibungkus guyon, kadang dibumbui dengan kekesalan yang entah benar-benar paham konteks atau hanya ikut-ikutan.
Tapi yang jelas, komentar seperti itu berbahaya. Bukan hanya karena secara moral ia keliru, tetapi karena ia menunjukkan betapa mudahnya kita menanggalkan empati saat dendam dan ideologi memegang kendali.
Padahal, Viktor E. Frankl, seorang penyintas kamp konsentrasi Nazi, menulis dalam Man’s Search for Meaning:
“There are only two races of men in the world, the decent man and the indecent man.”
Bagi Frankl, penderitaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi suci. Tapi memilih untuk tidak kehilangan kemanusiaan di tengah penderitaan, itulah kekuatan sejati manusia. Ia bisa saja menyimpan dendam pada semua orang Jerman, tapi ia tidak melakukannya. Karena menurutnya, kejahatan bukanlah milik satu bangsa, ras, atau agama. Tapi milik individu-individu yang memilih untuk melukai sesama dengan sadar.
Dan ini bukan cuma soal “mereka di luar sana.” Sejarah kita pun menyimpan luka yang sama mengerikannya.
Pasca 1965, ratusan ribu hingga mungkin jutaan orang ditangkap, disiksa, dibunuh, dan dibuang ke lubang-lubang massal hanya karena dicurigai sebagai bagian dari PKI atau simpatisannya. Banyak dari mereka tak pernah diberi kesempatan membela diri. Dalam beberapa kasus, warga desa sendiri yang menjadi eksekutor: tetangga membunuh tetangganya sendiri karena bisik-bisik gelap yang berhembus.
Kita tak sedang membela ideologi apapun. Tapi jika kita bisa menonton dokumenter seperti Pulau Buru Tanah Air Beta, Senyap, dan Jagal, atau membaca catatan penyintas seperti Hersri Setiawan dan Pramoedya Ananta Toer, kita akan menyadari satu hal:
kekejaman bisa tumbuh dari rasa benar yang terlalu mutlak, dan empati bisa lenyap saat kita menuduh tanpa tahu.
Kita boleh mengutuk kekejaman Israel atas warga Palestina, dan memang kita harus lantang menyuarakan ketidakadilan. Tapi tidak dengan cara melegitimasi Holocaust. Kita boleh mengutuk penjajahan Jepang, tapi bukan berarti menertawakan anak-anak yang mati kelaparan dalam film.
Kita juga bisa bersikap kritis terhadap sejarah internal bangsa ini, mengenang bahwa kadang yang melakukan kekejaman bukanlah pihak asing, tapi warga sendiri yang “kehilangan arah.”
Menjadi manusia berarti berhak untuk marah, kecewa, dan terluka. Tapi menjadi manusia sepenuhnya berarti tetap menyalakan empati, bahkan saat kita tergoda untuk memadamkannya.
Karena pada akhirnya, seperti kata Frankl:
“Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms, to choose one's attitude in any given set of circumstances, to choose one's own way.”
Saat dunia terus membenturkan narasi, kadang satu-satunya perlawanan kita yang tersisa adalah tetap memilih menjadi manusia.
Comments
Post a Comment