Skip to main content

Emas dan FOMO: Menghindari Keputusan Impulsif dalam Investasi

Dalam dunia investasi, FOMO (Fear of Missing Out) adalah fenomena psikologis yang sangat nyata. Ketika harga suatu aset naik tajam, baik itu saham, kripto, atau emas, orang mulai merasa tertinggal. Ketakutan itu mendorong keputusan impulsif: beli bukan karena logika, tapi karena tekanan sosial dan ketakutan “ketinggalan kereta.”

Fenomena ini bukan hal baru. Kita sudah pernah lihat hype kripto di tahun 2017 dan kembali meledak lebih liar di 2021. Bitcoin, Ethereum, dan altcoin lainnya melambung tinggi. Timeline penuh dengan testimoni “cuan cepat”, lalu semua berlomba masuk pasar. Tapi tak lama setelah euforianya mencapai puncak, pasar mulai runtuh. Nilai-nilai kripto anjlok, meninggalkan banyak investor dadakan yang membeli di harga pucuk. Cerita manis berubah jadi pelajaran pahit.

Kini suasananya mulai terasa mirip, hanya saja pusat sorotannya berpindah ke emas. Harga emas global sudah menembus level tertingginya sepanjang sejarah. Emas kembali digadang-gadang sebagai aset "safe haven", dan itu memang benar secara fundamental. Tapi seperti aset lainnya, emas juga tunduk pada siklus. Ia punya masa-masa bullish yang gemilang, lalu memasuki fase bearish yang sunyi.

Tahun 1980, emas sempat melonjak drastis akibat ketegangan geopolitik dan inflasi tinggi, lalu jatuh lebih dari 60% dan butuh dua dekade untuk pulih. Tahun 2011, pola yang sama terulang. Harga menembus $1.900/oz, lalu selama beberapa tahun setelahnya, harga hanya bergerak sideways atau menurun perlahan hingga mencapai titik terendah di kisaran $1.050/oz pada 2015.

Sekarang, saat emas berada di atas $2.300/oz, narasinya kembali dipenuhi ekspektasi. Tapi kita tahu, semakin keras narasi dikumandangkan, semakin dekat kita pada euforia. Dan dalam dunia finansial, euforia sering kali datang di ujung, bukan di awal.

Masalahnya bukan pada instrumen: bukan salah emas, kripto, atau saham. Tapi pada emosi manusia yang berulang: terlalu cepat percaya saat harga naik, dan terlalu cepat panik saat harga turun.

Euforia emas saat ini mungkin menarik, tapi investasi sejati dibangun dengan pemahaman dan strategi, bukan dengan mengikuti kerumunan. Jangan biarkan ketakutan ketinggalan membuat kita membeli di puncak. Pasar akan selalu ada, dan peluang yang lebih baik akan muncul jika bersabar dan bijaksana.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...