Aku masih ingat betul kapan pertama kali jatuh cinta sama AC Milan. Sekitar tahun 2007 atau 2008, waktu itu masih bocah, belum ngerti-ngerti banget soal formasi, taktik, apalagi istilah “false nine” yang akhir-akhir ini sering disebut-sebut. Yang aku tahu cuma satu: aku suka banget lihat Ricardo Kaká main bola.
Saat itu Milan lagi di puncak. Baru juara Liga Champions 2006/07, balas dendam manis ke Liverpool di Athena. Kaká lagi di masa emasnya, giringan bolanya elegan, umpannya halus, tendangannya akurat, selebrasinya khusyuk. Gak heran dia dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia tahun itu. Beberapa bulan kemudian Milan juga angkat trofi Piala Dunia Antarklub di Jepang. Sebagai anak kecil yang lagi nyari idola, aku gak butuh alasan lain. Milan dan Kaká jadi kombinasi yang bikin aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tapi jatuh cinta sama klub bola itu gak semulus yang diharapakan. Tahun 2009, Kaká pindah ke Real Madrid. Dan di situlah aku pertama kali ngerasain patah hati karena sepak bola. Tapi, seperti cinta sejati lainnya, rasa sayang ini tetap bertahan meski sang idola pergi.
Waktu SMP, masa-masa keemasan Facebook. Aku gabung di banyak grup Milanisti, yang isinya rame banget tiap mau matchday. Mereka sering ngadain kuis tebak skor. Aku ikutan semua, dan sengaja tebak skor beda-beda di tiap grup, biar peluang menang pulsa makin besar. Hadiahnya paling cuma pulsa 20 ribu, tapi buat aku waktu itu, rasanya kayak menang undian. Itu momen yang bikin aku merasa jadi bagian dari komunitas yang solid, meski hanya lewat dunia maya.
Masuk SMA, aku mulai kenal komunitas Milanisti lokal, Milanisti Indonesia Sezione Pekalongan. Anak-anaknya kebanyakan udah kuliah atau kerja, tapi aku yang masih cupu-cupu ini tetap diajak ngumpul. Main PS bareng hingga nonton bareng. Di situ aku ngerasa: jadi Milanisti itu ternyata gak sendirian.
Lambat laun, Milan mulai merosot. Para legenda satu per satu pergi. Maldini pensiun, Gattuso cabut, Pirlo malah ke Juventus (sakitnya masih kerasa!), Inzaghi gantung sepatu, dan klub mulai masuk era yang gak jelas. Gonta-ganti pelatih, dan pemain datang dan pergi: dari Alexandre Pato yang sempat digadang-gadang jadi penerus Kaká, ke Kevin-Prince Boateng yang beringas, ke Zlatan Ibrahimović yang jadi simbol kebangkitan saat Milan juara Serie A 2010/11. Lalu ada Thiago Silva, Robinho, El Shaarawy, Balotelli, Bonaventura hingga Donnarumma si bocah ajaib (Bukan bib Zidan hehe) yang akhirnya juga memilih pergi.
Sekarang, usiaku 28 tahun. Udah bukan remaja labil yang nebak skor buat dapet pulsa. Sekarang udah jadi bapak-bapak, literally, punya anak satu. Dan lucunya, jadi Milanisti tuh berasa makin pas. Di media sosial aja sering jadi bahan bercandaan: "Milan menang, Bapak-bapak senang" dan ya, aku sekarang bagian dari stereotype itu. Tapi entah kenapa, ada rasa bangga juga. Karena cinta ini udah melewati waktu, badai, dan berbagai era. Dari Kaká ke Leão, dari Paolo Maldini ke Daniel Maldini.
Dulu dan sekarang, nonton Milan rasanya tetap sama: deg-degan tiap bola masuk kotak penalti, hingga sumpah serapah kecil kalau Milan kalah. Barusan, Milan kalah lagi dari Atalanta, kekalahan yang bikin peluang main di UCL musim depan makin kabur. Bahkan UEL pun terasa jauh. Kadang rasanya cape sendiri, nonton ikutan kesel.
Milan bukan cuma klub bola. Dia bagian dari hidupku. Dari bocah sampai bapak-bapak. Dari Facebook sampai Instagram Reels. Dari pulsa 20 ribu, sampai sekarang bisa beli kuota sendiri. Mungkin Milan gak selalu menang, tapi dia selalu jadi rumah.
Dan rumah, seperti cinta, gak pernah kita tinggalkan.
Comments
Post a Comment