Skip to main content

Bukan Cuma Lagu, Tapi Teman Lama

Aku tidak pernah tahu kapan pertama kali aku mengenal Westlife. Tidak ada tanggal pasti yang bisa kutandai dalam kalender, tidak ada momen ikonik yang bisa kusebut sebagai awal. Tapi yang pasti, kehadiran mereka telah begitu lama menjadi bagian dari hidupku, lebih dari satu dekade, lebih dari sekadar suka.

Di masa ketika hidup masih sederhana dan koneksi internet bukan sesuatu yang mudah dijangkau, lagu-lagu Westlife menjadi semacam pelarian. Saat dunia di sekitarku belum begitu terbuka, mereka membuka jendela menuju dunia lain, dunia yang penuh harapan, patah hati, kerinduan, dan cinta. Lagu-lagu mereka adalah bahasa untuk perasaan-perasaan yang belum mampu kuucapkan sendiri. Aku belum tahu apa itu cinta, tapi saat mendengarkan "My Love" atau "Flying Without Wings", aku merasa paham. Ada getar yang samar, tapi nyata.

Saat tahun 2012 mereka mengumumkan bubar, ada bagian dari diriku yang terasa seperti kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam menemaniku. Walaupun tak pernah berinteraksi secara langsung, keberadaan mereka seperti sahabat yang senantiasa ada di latar belakang. Aku tidak menangis, tidak histeris, tapi ada keheningan yang menggantung lama. Seperti saat seseorang pulang diam-diam, tanpa sempat pamit.

Lalu mereka kembali. Tak segegap gempita masa awal 2000-an, tak sebooming band atau solois baru. Tapi aku ingat betapa senangnya aku waktu tahu mereka berkumpul lagi, masih bernyanyi, masih bercerita. Meski lagu-lagu baru mereka tidak sesering dulu terdengar di radio atau menjadi trending, rasanya tetap hangat di hati. Karena bagi penggemar sejati, mereka tidak harus viral untuk tetap dicintai.

Aku sendiri bingung kalau ditanya lagu favorit dari Westlife. Hampir semuanya aku suka. Kadang aku jawab “Swear It Again”, kadang “Fool Again”, kadang “What Makes a Man”. Tapi ada juga saat-saat di mana “My Love”, “If I Let You Go”, atau “I Lay My Love on You” terasa paling pas mewakili suasana hati. Lagu-lagu mereka punya cara tersendiri menyentuh emosi, dan mungkin karena itu sulit memilih hanya satu untuk dijadikan favorit.

Dari semua personil, aku selalu punya tempat khusus untuk Kian Egan. Ia tidak seikonik Shane Filan, atau sekuat Mark Feehily dengan nada tingginya yang khas. Tapi Kian punya sesuatu yang lain: ketenangan, konsistensi, dan suara yang menjadi jembatan antara semua harmoni. Ia seperti senyuman di tengah lagu yang pilu. Mungkin aku melihat diriku dalam Kian: tidak selalu menonjol, tapi berusaha menjaga irama agar tetap seimbang.

Dulu, untuk mendengarkan Westlife, aku harus pergi ke warnet. Menunggu loading YouTube yang lambat, atau mengunduh dari situs-situs ilegal yang baru kusadari kemudian adalah sebuah pelanggaran. Aku juga pernah membeli VCD bajakan, bukan karena aku ingin merugikan siapapun, tapi karena aku belum tahu. Aku hanya anak kecil yang ingin mendengarkan musik yang kucintai. Tapi kini, aku paham. Aku sadar pentingnya menghargai karya, menghargai jerih payah para seniman. Sekarang, aku berusaha untuk tidak lagi mengambil jalan pintas. Aku langganan platform legal, meski kadang harus menyesuaikan dengan isi dompet. Tapi aku ingin memastikan bahwa cinta pada karya juga harus dibarengi dengan penghargaan.

Sekarang, aku memang tidak setiap hari memutar lagu Westlife. Tapi saat di tempat-tempat umum: supermarket, minimarket, atau kafe, kadang tiba-tiba lagu mereka diputar, dan saat itulah aku tahu, aku belum benar-benar berpisah dari mereka. Lagu-lagu itu seperti kunci yang membuka pintu-pintu kenangan. Aku menyanyi lirih, kadang hanya dalam hati, tapi rasa itu tetap utuh.

Mungkin inilah makna sebenarnya dari musik: ia tidak selalu hadir di depan mata, tapi ia tinggal di dalam diri. Westlife bukan hanya bagian dari playlist lamaku, mereka adalah bagian dari prosesku menjadi dewasa. Dari anak kecil yang mendengarkan tanpa tahu apa-apa, menjadi seseorang yang paham bahwa setiap lagu adalah perjalanan jiwa.

Kini, dalam dunia yang terus berubah cepat, dengan musik-musik baru bermunculan setiap saat, aku mungkin sudah tidak mengikuti Westlife seintens dulu. Tapi rasa suka itu tetap ada, tidak benar-benar hilang. Lagu-lagu mereka tetap terasa familiar, seperti sahabat lama yang tak sering ditemui, tapi selalu menyenangkan kalau tiba-tiba bertemu kembali.

Dan mungkin memang seperti itulah hubungan kita dengan musik yang pernah menemani tumbuh, ia tidak harus selalu ada di playlist harian, tapi cukup hadir di momen-momen kecil untuk mengingatkan bahwa kita pernah sangat dekat dengannya.

Westlife, buatku, bukan sekadar grup musik. Mereka adalah bagian dari masa yang penuh cerita, dan meskipun waktu berjalan, hal-hal seperti itu rasanya tak pernah benar-benar pergi.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...