Skip to main content

Waktu Berjalan, Kenangan Bertahan

Aku gak ingat kapan tepatnya mulai mengenal Affan. Mungkin di awal masuk Madrasah Aliyah, mungkin juga sedikit lebih lambat dari itu. Tapi yang jelas, kami sering berada di lingkaran yang sama, di organisasi, di kepanitiaan, di ruang kelas, atau sekadar di perpustakaan saat jam istirahat. Dia bukan tipe orang yang terlalu menonjol, tapi juga bukan yang biasa-biasa saja. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang lain tahu bahwa dia ada, tanpa harus berusaha keras untuk diperhatikan.

Aku juga gak tahu sejak kapan aku mulai menganggapnya sahabat. Mungkin sejak kami sama-sama dicalonkan jadi ketua OSIS dan bersaing cukup sengit saat itu. Kami berdua sama-sama aktif di organisasi, jadi ketika tiba saatnya pemilihan, nama kami sudah otomatis muncul sebagai kandidat kuat. Aku masih ingat bagaimana kami sama-sama sibuk berkampanye, menyusun visi-misi, dan mencoba menarik suara teman-teman. Pada akhirnya, Affan yang menang. Aku tentu saja sedikit kecewa, tapi anehnya, gak terlalu merasa kalah. Mungkin karena bagaimanapun juga, aku tahu posisi itu jatuh ke tangan yang tepat.

Selain di OSIS, kami juga sering bertemu di organisasi lain: PMR dan Pramuka. Sepertinya hampir semua kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah pernah kami masuki. Mungkin karena kami memang tipe orang yang gak bisa diam, atau mungkin karena memang mencari pelarian dari tugas-tugas sekolah yang membosankan.

Ada satu hal unik tentang Affan yang dulu gak terlalu aku perhatikan, tapi sekarang justru aku ingat dengan jelas. Dia suka anime. Aku gak tahu persis seberapa besar ketertarikannya, karena dia bukan tipe orang yang terlalu sering cerita tentang hal yang dia suka. Tapi aku tahu dia tergila-gila dengan Death Note dan Fairy Tail. Aku gak pernah bertanya lebih jauh tentang itu, dan dia juga gak pernah berusaha mengenalkan aku ke dunia anime. Mungkin karena dia merasa aku gak tertarik, atau mungkin juga karena memang dia menikmati itu sendirian.

Sama halnya dengan musik. Affan suka Evanescence. Imaginary adalah lagu favoritnya. Aku ingat pernah mendengar lagu itu berkali-kali saat kami sedang mengerjakan sesuatu bersama, atau sekadar nongkrong di sekolah. Waktu itu, aku gak terlalu paham kenapa dia begitu menikmati musik seperti itu. Buatku, Evanescence terdengar aneh. Melodinya gelap, liriknya penuh emosi, bukan tipe musik yang menarik perhatianku saat itu. Tapi Affan tampak menikmatinya, seolah setiap lirik memiliki makna yang hanya bisa dia mengerti.

Lucunya, lima tahun belakangan ini, aku justru mulai menyukai dua hal yang dulu lekat dengan Affan. Anime? Aku sudah menonton banyak judul sekarang. Evanescence? Aku bahkan punya lagu favorit sendiri dari mereka, Field of Innocence. Kadang aku ketawa sendiri kalau ingat betapa dulu aku sama sekali gak tertarik dengan hal-hal ini, sementara sekarang malah jadi bagian dari keseharianku.

Tapi ada satu hal lain tentang Affan yang lebih mengejutkan daripada perubahan seleraku: dia menikah bukan dengan pacarnya semasa Aliyah. Semua orang dulu berpikir kalau mereka bakal lanjut ke jenjang yang lebih serius, tapi ternyata tidak. Setelah lulus, hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda. Affan akhirnya menikah dengan teman kampusnya. Dan yang lebih menarik lagi, mantannya dia justru menikah dengan teman sekelas kami. Kadang aku mikir, mungkin dunia ini lebih kecil dari yang kita kira, atau mungkin hidup memang penuh kejutan yang gak terduga.

Setelah lulus, aku dan Affan sudah gak lagi sering bertemu seperti dulu. Dia menikah lebih dulu, punya anak lebih dulu. Terakhir kali aku bertemu dengannya, tiga tahun yang lalu, dia sudah menjadi seorang ayah. Aku melihat wajahnya yang masih sama seperti dulu, hanya sedikit lebih dewasa, sedikit lebih matang. Kami ngobrol sebentar, saling bertanya kabar, tapi waktu terasa terlalu cepat berlalu. Setelah pertemuan itu, aku gak tahu lagi bagaimana hidupnya sekarang. Mungkin keluarganya semakin besar, mungkin dia sudah punya anak kedua.

Kadang, ketika aku mendengarkan Imaginary atau menonton anime yang dulu dia suka, aku teringat Affan. Aku bertanya-tanya, apakah dia masih menyukai hal-hal yang dulu menjadi bagian dari hidupnya? Apakah dia masih sesibuk dulu, masih seantusias dulu?

Aku gak tahu apakah Affan masih mengingat semua ini seperti aku mengingatnya. Tapi kalau suatu saat dia membaca ini, entah sengaja atau gak sengaja, aku cuma mau bilang:

Affan, aku gak tahu sekarang hidup membawamu ke mana. Terakhir kali kita bertemu, kamu sudah jadi seorang ayah, sudah melangkah lebih jauh dalam hidup dibanding aku saat itu. Mungkin sekarang kamu sudah punya anak kedua, mungkin juga sudah makin sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Aku gak tahu apakah kamu masih seperti dulu, tapi aku harap kamu tetap jadi orang yang punya ambisi, yang selalu serius dalam apapun yang kamu jalani.

Aku juga penasaran, kamu masih nonton anime gak? Masih dengerin Evanescence atau sekarang lebih familiar sama lagu-lagu anak? Apapun itu, aku harap kamu bahagia dengan hidupmu sekarang.

Aku gak tahu apakah kamu pernah menganggapku sahabat atau cuma sekadar teman sekolah yang kebetulan sering ketemu. Tapi bagiku, kamu tetap seseorang yang pernah punya tempat dalam ingatan. Kalau suatu hari kita bertemu lagi, mungkin kita bisa ngobrol sebentar, nostalgia sedikit, atau sekadar saling bertanya kabar.

Sampai saat itu tiba, jaga diri baik-baik, Fan. Semoga hidup selalu membawamu ke arah yang baik.


Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...