Skip to main content

Udah Hype, Eh Malah Antiklimaks: Review Episode 12 Solo Leveling

Setelah perjalanan panjang yang penuh aksi seru dan perkembangan karakter yang makin badass, episode 12 Solo Leveling season 2 seharusnya jadi puncak yang spektakuler. Tapi jujur aja, buat saya, episode ini malah terasa kurang memuaskan. Pertarungan antara Sung Jin-Woo dan Beru yang seharusnya jadi highlight malah terasa kurang nendang.

Salah satu alasan kenapa Solo Leveling begitu digemari adalah karena pertarungannya yang selalu dramatis, baik dari segi animasi, koreografi, maupun ekspresi emosinya. Tapi di episode ini, final fight-nya terasa buru-buru, kurang dramatis, dan gak se-epik yang diharapkan.

Sebagai pertarungan terakhir di season 2, duel Jin-Woo vs Beru ini harusnya bisa lebih panjang dan lebih intens. Beru bukan lawan sembarangan, dia salah satu musuh terkuat yang pernah Jin-Woo hadapi. Bahkan sebelumnya, Beru dengan mudah membunuh Hunter S-rank Jepang, Goto Ryuji, yang notabene adalah salah satu hunter terkuat. Tapi di sini, kesan Beru sebagai ancaman besar malah gak terasa. Harusnya ada lebih banyak momen tegang sebelum Jin-Woo benar-benar menunjukkan dominasinya sebagai Shadow Monarch. Tapi sayangnya, animasinya terasa kurang wah dan penyelesaiannya terlalu terburu-buru.

Harusnya bisa dibuat lebih menegangkan, kayak pertarungan Tanjiro dkk lawan Gyutaro di Demon Slayer. Pertarungan itu dibangun dengan baik, penuh dengan ketegangan, dan setiap karakter punya momen epiknya masing-masing. Setiap serangan terasa berbobot, ada momen di mana kita beneran ragu apakah para protagonis bisa menang atau enggak. Nah, itulah yang kurang di pertarungan Jin-Woo vs Beru. Gak ada rasa was-was atau intensitas yang bikin kita geregetan nunggu hasil akhirnya.

Kalau dibandingin sama pertarungan Jin-Woo vs Igris beberapa episode sebelumnya, rasanya beda jauh. Duel lawan Igris terasa lebih berkelas, lebih menegangkan, dan dibangun dengan baik. Momen ketika Jin-Woo akhirnya menang pun terasa lebih satisfying. Sementara di episode ini, final battle yang harusnya bikin merinding malah terasa antiklimaks.

Sebagai penutup arc, episode ini harusnya jadi grand finale yang bikin penonton puas. Tapi sayangnya, eksekusinya kurang maksimal.

Walaupun begitu, Solo Leveling tetap seru buat ditonton, terutama kalau udah ngikutin dari awal. Tapi kalau ngomongin soal pertarungan terakhir, rasanya kurang greget dibanding ekspektasi. Buat yang udah baca manhwa atau novelnya, mungkin masih bisa memahami kenapa episode ini dibuat seperti ini. Tapi buat yang cuma nonton animenya, wajar kalau merasa pertarungan ini kurang memuaskan.

Semoga di season berikutnya, Solo Leveling bisa menyajikan pertarungan yang lebih megah, lebih intens, dan lebih dramatis!

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...