Hari ini, seandainya waktu mengizinkan, kita mungkin akan melihat Sapardi Djoko Damono duduk di beranda rumahnya, menyesap teh, dan menatap rinai hujan yang jatuh pelan di bulan Maret. Namun, seperti puisinya, ia telah menyatu dengan keabadian, meninggalkan kata-kata yang terus hidup dalam ingatan kita.
Siapa yang tidak mengenal Hujan Bulan Juni? Baris-barisnya sederhana, tapi membawa kedalaman yang tak mudah dilupakan:
"tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu…"
Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan perasaan yang menjelma hujan, angin, dan bayangan senja. Ia mengajarkan kita bahwa cinta bisa hadir dalam bentuk yang paling sunyi, namun tetap setia.
Lalu ada Aku Ingin, puisi pendek yang menggetarkan hati banyak orang, menggambarkan cinta dalam bentuk yang paling murni:
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu…”
Dalam kesederhanaan kata-kata itu, tersimpan makna yang mendalam: bahwa cinta sejati tak butuh kata-kata berlebihan.
Sapardi juga menulis tentang kefanaan dengan penuh kelembutan, seperti dalam puisi Pada Suatu Hari Nanti:
"Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri…"
Seperti yang ia tulis sendiri, ia memang telah pergi, tetapi tidak pernah benar-benar hilang. Puisinya terus menemani kita, menjadi pelipur dalam sepi, menjadi sahabat dalam kenangan.
Lalu ada Sajak Kecil Tentang Cinta, puisi yang mengajarkan bahwa mencintai sesuatu berarti menyatu dengannya, melebur ke dalam esensinya:
"Mencintai angin harus menjadi siut…
Mencintai air harus menjadi ricik…
Mencintai gunung harus menjadi terjal…
Mencintai api harus menjadi jilat…
Mencintai cakrawala harus menebas jarak…"
Kata-katanya begitu kuat, sederhana, dan mendalam. Cinta menurut Sapardi bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang bagaimana kita harus menjadi bagian dari apa yang kita cintai.
Ada juga puisinya yang melukiskan waktu dengan cara yang begitu khas, seperti dalam Di Restoran:
"Kita berdua saja
duduk di restoran itu,
kau pesankan sesuatu untukku
aku pesankan sesuatu untukmu
lalu kita makan berlama-lama
seperti dua orang yang lupa
bahwa mereka sebenarnya saling membenci…"
Sapardi kerap menggambarkan hubungan manusia dengan cara yang unik. Terkadang pahit, terkadang ironis, tapi selalu terasa begitu nyata.
Dan siapa yang bisa melupakan Hatiku Selembar Daun? Puisi ini begitu lirih:
"Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;
nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput…"
Barangkali, itulah yang dilakukan Sapardi dalam hidupnya, memandang sesuatu yang sering kita lewatkan, merangkainya menjadi kata-kata, lalu membiarkannya hidup dalam ingatan kita.
Sapardi mungkin telah pergi, tetapi ia telah menulis keabadian dalam puisinya. Kata-katanya terus hidup di hati banyak orang, menemani dalam hujan, dalam rindu, dalam cinta yang tak terucap.
Di dunia yang terus berubah, puisi-puisinya tetap menjadi tempat kembali. Ia adalah penyair yang tidak hanya menulis, tetapi juga mengajarkan kita bagaimana merasakan. Ia mengajarkan bahwa cinta bisa sederhana, bahwa rindu bisa disimpan dalam diam, bahwa hujan bisa menjadi metafora dari banyak hal.
Hari ini, kita mengenangnya dengan penuh cinta. Selamat ulang tahun di keabadian, Pak Sapardi. Kata-katamu akan terus hidup, seperti hujan yang turun di bulan Juni, diam-diam, tapi tak pernah benar-benar hilang.
Comments
Post a Comment