![]() |
| Foto: Ahmad Dhani DPR RI |
Ahmad Dhani boleh jadi musisi hebat, tapi kalau ngomong soal sepak bola, jelas dia nggak ngerti apa-apa. Baru-baru ini, dia melontarkan pernyataan absurd soal naturalisasi pemain di Timnas Indonesia. Bukan soal kualitas atau strategi permainan, tapi soal warna kulit, warna rambut dan perjodohan pemain dengan perempuan Indonesia.
"Kalau bisa mungkin, dicari dengan yang rasnya mirip-mirip dengan kita seperti dari Korea atau Afrika yang mirip-mirip dengan kita," katanya. Lalu, lebih jauh lagi, dia bilang: "Bisa juga misalnya, pemain-pemain bola yang sudah di atas usia 40 tahun, itu bisa juga kita naturalisasi pemain-pemain hebat, lalu kita jodohkan dengan perempuan Indonesia. Lalu anaknya kita bina."
Serius, ini timnas sepak bola atau eksperimen genetika?
Komentar Dhani soal pemain "kurang enak dilihat" bukan cuma rasis, tapi juga menunjukkan betapa dangkalnya pemahamannya tentang sepak bola. Negara-negara besar di dunia tidak peduli apakah pemainnya "mirip" dengan mayoritas penduduknya atau tidak. Yang mereka pedulikan adalah skill dan kontribusi di lapangan.
Prancis, Jerman, dan Portugal punya banyak pemain keturunan Afrika yang membawa tim mereka juara. Jepang juga memakai pemain asal Brasil, dan mereka tetap bangga dengan timnya. Sepak bola itu kompetisi, bukan kontes keseragaman wajah. Kalau Dhani lebih peduli soal kemiripan ras daripada performa, jelas dia salah tempat.
Bagian yang lebih ngawur lagi adalah usulnya untuk menjodohkan pemain bola berusia 40 tahun dengan perempuan Indonesia demi "mencetak" atlet berbakat. Ini bukan cuma rasis, tapi juga seksis. Seolah-olah perempuan Indonesia hanya dianggap sebagai alat produksi atlet masa depan.
Dhani bahkan menambahkan, "Apalagi kalau Muslim kan bisa empat istri, atau mungkin pemain Arab, Aljazair, atau pemain-pemain yang sudah tua, kita naturalisasi, carikan istri di sini, lalu anaknya kita bina."
Serius? Sejak kapan regenerasi atlet bergantung pada jumlah istri pemain bola? Atlet hebat lahir dari pembinaan yang serius, latihan keras, dan kompetisi yang sehat, bukan dari hasil kawin massal.
Kalau Dhani berpikir ini hanya candaan, maka ini candaan yang buruk. Bukan cuma nggak lucu, tapi juga merendahkan perempuan dan menunjukkan ketidaktahuannya soal olahraga. Di forum resmi, komentar seperti ini nggak pantas. Humor yang baik itu menghibur, bukan mempermalukan atau merendahkan orang lain.
Kalau ingin melihat sepak bola Indonesia maju, perbaikilah sistemnya. Bangun infrastruktur, cari pelatih berkualitas, perbanyak kompetisi yang sehat. Itu solusi nyata, bukan sibuk mengatur warna kulit dan warna rambut pemain atau merancang eksperimen perjodohan atlet.
Sepak bola Indonesia butuh revolusi, tapi jelas bukan revolusi ala Ahmad Dhani.

Comments
Post a Comment