Skip to main content

Karier Tak Sesuai Rencana, Tapi Berjalan Sesuai Takdir

Hidup ini memang penuh dengan kejutan. Dulu, aku sempat bercita-cita menjadi auditor eksternal di Kantor Akuntan Publik (KAP), membayangkan diri bekerja di perusahaan besar dengan ritme kerja yang dinamis. Tapi ternyata, perjalanan hidup membawa ke arah yang sama sekali tidak terduga.

Sebelum lulus kuliah, aku sudah merasakan berbagai macam pekerjaan. Pernah menjadi waiters di restoran, cleaning service, debt collector, hingga pramuniaga di minimarket. Semua pekerjaan itu memberikanku pengalaman yang berharga. Bekerja di berbagai bidang mengajarkanku banyak hal: bagaimana berinteraksi dengan berbagai karakter manusia, bagaimana menghadapi tekanan kerja, dan yang paling penting, bagaimana bertahan dalam situasi yang tidak selalu ideal.

Setelah menyelesaikan studi D3 Akuntansi, ada salah satu pencapaianku yang cukup membanggakan: diterima sebagai tenaga kontrak di MAN Insan Cendekia Pekalongan. Ini bukan sekadar pekerjaan biasa. MAN Insan Cendekia Pekalongan merupakan sekolah unggulan, salah satu yang terbaik di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. Bisa bekerja di sana adalah suatu kebanggaan tersendiri bagiku, karena seleksi tenaga kontraknya pun cukup ketat.

Namun, takdir berkata lain. Setelah beberapa waktu bekerja, datang kabar bahwa kontrak tidak diperpanjang karena adanya mutasi PNS dari Maluku. Saat menerima surat pemberitahuan itu, rasanya campur aduk. Kecewa, tentu saja. Bagaimana tidak? Bekerja di sekolah terbaik, dengan lingkungan yang luar biasa, lalu tiba-tiba harus pergi.

Tetapi dalam hidup, sering kali hal yang terlihat seperti ‘kesialan’ justru menjadi titik awal dari perjalanan baru yang lebih besar.

"Kesulitan sering kali mempersiapkan orang biasa untuk takdir yang luar biasa."
– C. S. Lewis

Sehari setelah menerima surat itu, seolah Allah memberikan petunjuk baru, ada informasi tentang seleksi perangkat desa untuk formasi Kepala Dusun. Tanpa banyak ragu, aku memutuskan untuk ikut. Menghadapi seleksi yang cukup panjang dan penuh tantangan, namun akhirnya berhasil lolos.

Selama kurang lebih 2,5 tahun menjalani tugas sebagai perangkat desa, banyak hal baru yang aku pelajari. Dari yang awalnya hanya mengenal pemerintahan dalam teori, kini bisa melihat langsung bagaimana birokrasi di tingkat desa berjalan. Bagaimana mengurus administrasi masyarakat, bagaimana menangani berbagai permasalahan sosial, dan yang paling penting, bagaimana belajar melayani dengan sepenuh hati.

Tapi ada satu hal yang paling membanggakan selama bertugas di desa: prinsip tetap terjaga. Tidak tergoda untuk melakukan pungli atau penyimpangan lain yang mungkin dianggap "lumrah" di lingkungan tertentu.

“Integritas adalah melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”
– C.S. Lewis

Namun, ada satu keinginanku yang belum sepenuhnya terwujud: ingin berkembang lebih jauh, ingin mencari tantangan baru. Ketika ada pembukaan CPNS di Kabupaten Pemalang untuk formasi Auditor Terampil di Inspektorat, aku melihat ini sebagai kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan persiapan yang matang dan penuh harapan, aku menjalani proses seleksi, dari awal hingga akhir.
Alhamdulillah, hasilnya? lolos CPNS tahun ini!

Sekarang, tinggal menunggu TMT (Terhitung Mulai Tanggal) dan SPMT (Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas) sebelum resmi bekerja sebagai Auditor Internal Pemerintah. Aku sudah tidak sabar untuk mengikuti Latsar CPNS dan Diklat Auditor. Ini bukan sekadar pekerjaan baru, tetapi juga tanggungjawab baru, amanah baru. Ada banyak hal yang harus kupelajari, ada banyak tantangan yang harus kuhadapi, tetapi yang pasti, ini adalah langkah besar dalam perjalanan karierku.

Dulu, aku pernah bercita-cita menjadi auditor eksternal di KAP, tetapi ternyata Allah memberikan jalan yang berbeda: auditor internal pemerintah. Mungkin ini adalah takdir terbaikku.

“Terkadang, jalan terbaik bukanlah jalan yang kita pilih, melainkan jalan yang Tuhan arahkan untuk kita.”
– Mitch Albom, The Five People You Meet in Heaven

Seperti yang ditulis Paulo Coelho dalam The Alchemist:

"Jika kamu menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk membantumu mencapainya."

Kadang, kita merasa jalan hidup ini penuh dengan belokan tak terduga. Tapi belokan itu selalu ada alasannya. Jika dulu aku tetap bertahan di MAN Insan Cendekia, mungkin tidak akan terpikir olehku untuk mencoba seleksi CPNS, karena tentunya lebih berharap peluang di PPPK. Jika tidak menjadi perangkat desa, mungkin tidak akan punya pengalaman yang sekarang menjadi bekal di dunia birokrasi.

Sejauh ini, Allah telah membantuku menemukan jalan yang terbaik. Mungkin bukan jalur yang dulu diimpikan, tetapi siapa yang tahu? Bisa jadi, ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan. Perjalanan masih panjang, dan ini baru permulaan.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...