Saat orang mendengar nama Finneas, kemungkinan besar yang langsung terlintas di kepala mereka adalah "kakaknya Billie Eilish" atau "produsernya Billie Eilish" Itu memang benar, Finneas adalah produser utama dari hampir semua lagu Billie, dan berkat kepiawaiannya, Billie bisa menciptakan sound khas yang sekarang mendominasi industri musik.
Tapi buat kamu yang sudah menyelami musiknya sebagai solois, pasti sadar bahwa Finneas lebih dari sekadar "orang di balik layar." Dia punya karya sendiri yang nggak kalah emosional, penuh storytelling, dan punya sentuhan produksi musik yang khas. Lagu-lagu seperti I Lost a Friend, Break My Heart Again, atau What They'll Say About Us adalah bukti kalau dia bukan cuma jago bikin lagu buat orang lain, tapi juga seorang penyanyi-penulis lagu yang patut diapresiasi.
Tapi kenapa sampai sekarang nama Finneas sebagai solois masih terasa underrated?
Salah satu alasan utama kenapa Finneas masih underrated adalah karena banyak orang mengenalnya hanya sebagai produser Billie Eilish. Wajar sih, karena lagu-lagu Billie memang mendominasi chart, dan Finneas selalu berada di belakangnya sebagai produser, penulis lagu, bahkan kadang ikut main di panggung sebagai keyboardist.
Padahal kalau kita lihat kariernya sebagai solois, dia sudah punya banyak karya sendiri yang nggak kalah keren. Albumnya, Blood Harmony (2019) dan Optimist (2021), punya banyak lagu dengan lirik mendalam dan aransemen musik yang lebih bervariasi dari yang dia buat untuk Billie. Kalau di musik Billie kita sering mendengar suara bisikan dan ketukan beat yang unik, di lagu-lagu Finneas lebih banyak permainan piano, melodi yang lebih melodramatis, dan vokal yang lebih ekspresif.
Misalnya lagu I Lost a Friend, yang menurutku adalah salah satu lagu terbaiknya. Liriknya simpel, tapi penuh makna. Dia nggak berusaha terdengar puitis atau rumit, tapi justru karena kesederhanaannya, lagu ini terasa sangat real. Ditambah lagi dengan musiknya yang minimalis, mulai hanya dengan vokal dan piano, lalu perlahan-lahan bertambah elemen hingga akhirnya meledak di bagian akhir. Ini adalah ciri khas Finneas: membuat sesuatu yang sederhana terasa megah tanpa kehilangan emosinya.
Kalau kamu suka lagu-lagu yang punya storytelling kuat, Finneas adalah musisi yang tepat untuk didengarkan. Lirik-liriknya sering kali terasa personal, seolah dia lagi ngobrol langsung dengan kita.
Ambil contoh lagu What They'll Say About Us. Ini bukan sekadar lagu balada biasa, Finneas menulisnya sebagai refleksi dari masa-masa sulit, khususnya terinspirasi dari perjuangan Nick Cordero melawan COVID-19. Saat pertama kali mendengar lagu ini, aku langsung merasa kalau ada dua emosi yang saling bertabrakan di dalamnya: harapan dan kesedihan.
Bagian lirik "You're tired now, lie down / I'll be waitin' to give you the good news" terdengar seperti seseorang yang berusaha meyakinkan orang yang ia cintai bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri nggak sepenuhnya yakin. Dan di ujung lagu, ada lirik yang begitu menyentuh: "And if you don’t wake up / I'll know you tried to" sebuah penerimaan yang pahit tapi penuh kasih sayang.
Lagu ini bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan akan dunia yang lebih baik. "We've got the time to take the world / And make it better than it ever was" seolah Finneas ingin mengatakan bahwa meskipun seseorang pergi, perjuangan mereka tetap hidup.
Atau Break My Heart Again, lagu yang terdengar seperti surat yang nggak pernah terkirim. Aku suka banget bagaimana lagu ini terasa intim, seperti kita sedang membaca chat lama sambil bernostalgia, padahal tahu bahwa akhirnya akan tetap menyakitkan. Aransemen pianonya juga sederhana, tapi justru itu yang membuat feel-nya makin dapet.
Lagu lain yang baru-baru ini menarik perhatianku adalah "For Cryin' Out Loud", rilisan terbarunya. Lagu ini terasa lebih teatrikal dibandingkan beberapa lagu sebelumnya. Vokalnya terdengar lebih ekspresif, hampir seperti sebuah monolog emosional. Finneas seperti sedang mengubah sebuah adegan dramatis menjadi musik, dan ini semakin membuktikan betapa unik cara dia menulis lagu.
Selain itu, ada juga "Die Alone", yang sudah cukup lama dirilis tapi tetap jadi salah satu favoritku. Lagu ini menggambarkan ketakutan seseorang untuk kehilangan orang yang dicintai. Aransemennya sederhana, tapi justru itu yang bikin lagu ini semakin menyentuh. Liriknya yang penuh harapan sekaligus menyiratkan ketakutan bikin lagu ini terasa dekat bagi siapa pun yang pernah benar-benar jatuh cinta.
Tapi bukan berarti Finneas hanya membuat lagu-lagu sendu dan penuh emosi. Dia juga punya lagu-lagu yang lebih ceria dan playful, seperti Claudia, yang merupakan lagu cinta manis yang ia buat untuk pacarnya. Atau The Kids Are All Dying, yang meskipun liriknya cukup satir, musiknya tetap upbeat dan penuh energi.
Lagu-lagu lain seperti Hate to Be Lame (feat. Lizzy McAlpine) dan Till Forever Falls Apart (feat. Ashe) juga menunjukkan sisi lain Finneas yang lebih berwarna, dengan harmoni vokal yang indah dan melodi yang lebih besar. Dan jangan lupakan Only a Lifetime, lagu yang benar-benar terasa seperti pelukan hangat di tengah kesibukan dunia.
Kalau kamu sering mendengarkan lagu-lagu mainstream yang penuh dengan beat besar dan efek suara yang kompleks, musik Finneas bisa terasa lebih "sepi." Tapi justru di situlah kekuatannya, dia tahu bagaimana cara membuat lagu yang terdengar minimalis tapi tetap terasa deep.
Misalnya di I Lost a Friend, bagian awal lagu hanya ada suara vokal dan sedikit instrumen. Tapi seiring lagu berjalan, Finneas secara perlahan menambahkan elemen-elemen kecil, dari synth halus sampai drum yang tiba-tiba masuk di bagian klimaks lagu. Teknik ini sering dia gunakan di lagu-lagunya, membuat kita seolah dibawa dalam perjalanan emosional dari awal sampai akhir.
Dengan semua kelebihan ini, kenapa nama Finneas masih belum sebesar solois lain? Menurutku ada 2 alasan:
1. Dia lebih dikenal sebagai produser Billie Eilish
Banyak orang yang mungkin suka lagu Billie, tapi nggak sadar kalau Finneas juga punya musik sendiri. Agak sulit keluar dari bayangan seorang penyanyi sebesar Billie.
2. Musiknya lebih niche
Finneas nggak membuat lagu yang "meledak" di TikTok atau gampang viral di media sosial. Musiknya lebih ke arah storytelling dan pengalaman mendalam, yang mungkin nggak langsung catchy di telinga pendengar biasa.
Tapi bukan berarti dia nggak punya potensi untuk menjadi lebih besar. Dengan semakin banyak orang yang mulai mengenal musiknya, aku yakin Finneas akan mendapatkan pengakuan yang lebih luas sebagai solois di masa depan.
Kalau ada satu hal yang membuat Finneas spesial sebagai solois, itu adalah kemampuannya menangkap emosi dalam bentuk paling jujur dan mentah. Dari lagu-lagunya, terasa jelas bahwa dia nggak sekadar bikin musik untuk viral atau memenuhi selera pasar. Dia benar-benar menciptakan sesuatu yang meaningful, dan mungkin itu juga yang bikin dia lebih sering disebut sebagai musisi underrated.
Kalau selama ini kamu hanya mengenal Finneas sebagai "produser Billie Eilish," atau bahkan belum mengenalnya sama sekali, coba deh kasih kesempatan untuk mendengarkan karyanya. Lagu-lagu seperti I Lost a Friend, Break My Heart Again, Die Alone, For Cryin' Out Loud, What They'll Say About Us, Claudia, Let's Fall in Love For The Night, Angel dan Only a Lifetime membuktikan bahwa dia adalah seorang musisi yang bukan hanya jenius dalam produksi, tetapi juga punya suara dan cerita yang layak didengar.
Comments
Post a Comment