Skip to main content

Finneas O’Connell: Si Jenius Musik yang Masih Underrated

Foto: @finneas via Instagram

Saat orang mendengar nama Finneas, kemungkinan besar yang langsung terlintas di kepala mereka adalah "kakaknya Billie Eilish" atau "produsernya Billie Eilish" Itu memang benar, Finneas adalah produser utama dari hampir semua lagu Billie, dan berkat kepiawaiannya, Billie bisa menciptakan sound khas yang sekarang mendominasi industri musik.

Tapi buat kamu yang sudah menyelami musiknya sebagai solois, pasti sadar bahwa Finneas lebih dari sekadar "orang di balik layar." Dia punya karya sendiri yang nggak kalah emosional, penuh storytelling, dan punya sentuhan produksi musik yang khas. Lagu-lagu seperti I Lost a Friend, Break My Heart Again, atau What They'll Say About Us adalah bukti kalau dia bukan cuma jago bikin lagu buat orang lain, tapi juga seorang penyanyi-penulis lagu yang patut diapresiasi.

Tapi kenapa sampai sekarang nama Finneas sebagai solois masih terasa underrated?

Salah satu alasan utama kenapa Finneas masih underrated adalah karena banyak orang mengenalnya hanya sebagai produser Billie Eilish. Wajar sih, karena lagu-lagu Billie memang mendominasi chart, dan Finneas selalu berada di belakangnya sebagai produser, penulis lagu, bahkan kadang ikut main di panggung sebagai keyboardist.

Padahal kalau kita lihat kariernya sebagai solois, dia sudah punya banyak karya sendiri yang nggak kalah keren. Albumnya, Blood Harmony (2019) dan Optimist (2021), punya banyak lagu dengan lirik mendalam dan aransemen musik yang lebih bervariasi dari yang dia buat untuk Billie. Kalau di musik Billie kita sering mendengar suara bisikan dan ketukan beat yang unik, di lagu-lagu Finneas lebih banyak permainan piano, melodi yang lebih melodramatis, dan vokal yang lebih ekspresif.

Misalnya lagu I Lost a Friend, yang menurutku adalah salah satu lagu terbaiknya. Liriknya simpel, tapi penuh makna. Dia nggak berusaha terdengar puitis atau rumit, tapi justru karena kesederhanaannya, lagu ini terasa sangat real. Ditambah lagi dengan musiknya yang minimalis, mulai hanya dengan vokal dan piano, lalu perlahan-lahan bertambah elemen hingga akhirnya meledak di bagian akhir. Ini adalah ciri khas Finneas: membuat sesuatu yang sederhana terasa megah tanpa kehilangan emosinya.

Kalau kamu suka lagu-lagu yang punya storytelling kuat, Finneas adalah musisi yang tepat untuk didengarkan. Lirik-liriknya sering kali terasa personal, seolah dia lagi ngobrol langsung dengan kita.

Ambil contoh lagu What They'll Say About Us. Ini bukan sekadar lagu balada biasa, Finneas menulisnya sebagai refleksi dari masa-masa sulit, khususnya terinspirasi dari perjuangan Nick Cordero melawan COVID-19. Saat pertama kali mendengar lagu ini, aku langsung merasa kalau ada dua emosi yang saling bertabrakan di dalamnya: harapan dan kesedihan.

Bagian lirik "You're tired now, lie down / I'll be waitin' to give you the good news"  terdengar seperti seseorang yang berusaha meyakinkan orang yang ia cintai bahwa semuanya akan baik-baik saja, meskipun ia sendiri nggak sepenuhnya yakin. Dan di ujung lagu, ada lirik yang begitu menyentuh: "And if you don’t wake up / I'll know you tried to" sebuah penerimaan yang pahit tapi penuh kasih sayang.

Lagu ini bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan akan dunia yang lebih baik. "We've got the time to take the world / And make it better than it ever was" seolah Finneas ingin mengatakan bahwa meskipun seseorang pergi, perjuangan mereka tetap hidup.

Atau Break My Heart Again, lagu yang terdengar seperti surat yang nggak pernah terkirim. Aku suka banget bagaimana lagu ini terasa intim, seperti kita sedang membaca chat lama sambil bernostalgia, padahal tahu bahwa akhirnya akan tetap menyakitkan. Aransemen pianonya juga sederhana, tapi justru itu yang membuat feel-nya makin dapet.

Lagu lain yang baru-baru ini menarik perhatianku adalah "For Cryin' Out Loud", rilisan terbarunya. Lagu ini terasa lebih teatrikal dibandingkan beberapa lagu sebelumnya. Vokalnya terdengar lebih ekspresif, hampir seperti sebuah monolog emosional. Finneas seperti sedang mengubah sebuah adegan dramatis menjadi musik, dan ini semakin membuktikan betapa unik cara dia menulis lagu.

Selain itu, ada juga "Die Alone", yang sudah cukup lama dirilis tapi tetap jadi salah satu favoritku. Lagu ini menggambarkan ketakutan seseorang untuk kehilangan orang yang dicintai. Aransemennya sederhana, tapi justru itu yang bikin lagu ini semakin menyentuh. Liriknya yang penuh harapan sekaligus menyiratkan ketakutan bikin lagu ini terasa dekat bagi siapa pun yang pernah benar-benar jatuh cinta.

Tapi bukan berarti Finneas hanya membuat lagu-lagu sendu dan penuh emosi. Dia juga punya lagu-lagu yang lebih ceria dan playful, seperti Claudia, yang merupakan lagu cinta manis yang ia buat untuk pacarnya. Atau The Kids Are All Dying, yang meskipun liriknya cukup satir, musiknya tetap upbeat dan penuh energi.

Lagu-lagu lain seperti Hate to Be Lame (feat. Lizzy McAlpine) dan Till Forever Falls Apart (feat. Ashe) juga menunjukkan sisi lain Finneas yang lebih berwarna, dengan harmoni vokal yang indah dan melodi yang lebih besar. Dan jangan lupakan Only a Lifetime, lagu yang benar-benar terasa seperti pelukan hangat di tengah kesibukan dunia.

Kalau kamu sering mendengarkan lagu-lagu mainstream yang penuh dengan beat besar dan efek suara yang kompleks, musik Finneas bisa terasa lebih "sepi." Tapi justru di situlah kekuatannya, dia tahu bagaimana cara membuat lagu yang terdengar minimalis tapi tetap terasa deep.

Misalnya di I Lost a Friend, bagian awal lagu hanya ada suara vokal dan sedikit instrumen. Tapi seiring lagu berjalan, Finneas secara perlahan menambahkan elemen-elemen kecil, dari synth halus sampai drum yang tiba-tiba masuk di bagian klimaks lagu. Teknik ini sering dia gunakan di lagu-lagunya, membuat kita seolah dibawa dalam perjalanan emosional dari awal sampai akhir.

Dengan semua kelebihan ini, kenapa nama Finneas masih belum sebesar solois lain? Menurutku ada 2 alasan:

1. Dia lebih dikenal sebagai produser Billie Eilish
Banyak orang yang mungkin suka lagu Billie, tapi nggak sadar kalau Finneas juga punya musik sendiri. Agak sulit keluar dari bayangan seorang penyanyi sebesar Billie.

2. Musiknya lebih niche
Finneas nggak membuat lagu yang "meledak" di TikTok atau gampang viral di media sosial. Musiknya lebih ke arah storytelling dan pengalaman mendalam, yang mungkin nggak langsung catchy di telinga pendengar biasa.

Tapi bukan berarti dia nggak punya potensi untuk menjadi lebih besar. Dengan semakin banyak orang yang mulai mengenal musiknya, aku yakin Finneas akan mendapatkan pengakuan yang lebih luas sebagai solois di masa depan.

Kalau ada satu hal yang membuat Finneas spesial sebagai solois, itu adalah kemampuannya menangkap emosi dalam bentuk paling jujur dan mentah. Dari lagu-lagunya, terasa jelas bahwa dia nggak sekadar bikin musik untuk viral atau memenuhi selera pasar. Dia benar-benar menciptakan sesuatu yang meaningful, dan mungkin itu juga yang bikin dia lebih sering disebut sebagai musisi underrated.

Kalau selama ini kamu hanya mengenal Finneas sebagai "produser Billie Eilish," atau bahkan belum mengenalnya sama sekali, coba deh kasih kesempatan untuk mendengarkan karyanya. Lagu-lagu seperti I Lost a Friend, Break My Heart Again, Die Alone, For Cryin' Out Loud, What They'll Say About Us, Claudia, Let's Fall in Love For The Night, Angel dan Only a Lifetime membuktikan bahwa dia adalah seorang musisi yang bukan hanya jenius dalam produksi, tetapi juga punya suara dan cerita yang layak didengar.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...