Skip to main content

Buku Tak Laku, Penulis Terlupakan, Literasi di Ujung Jurang

Dulu, founding fathers kita punya impian besar: Indonesia bebas buta huruf! Kenapa? Karena mereka paham, membaca adalah jendela dunia, jalan menuju ilmu dan wawasan yang lebih luas. Bahkan, dalam konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa itu sebuah keharusan. Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, bukan cuma di sekolah, tapi juga lewat bacaan.

Mari kita lihat ke belakang. Bung Karno pernah bergerak cepat membebaskan rakyat dari buta huruf. Hasilnya? Tahun 1964, hampir semua warga usia 13-45 tahun (kecuali di Irian Barat) sudah melek huruf. Keren, kan? but the real question is, apakah semangat ini masih terus berjalan?

Indeks Baca Indonesia: Darurat atau Gawat Darurat?
Di era digital, informasi memang gampang diakses. Tapi ironisnya, ini justru membuat indeks baca menurun.
Sekarang siap-siap terkejut dengan data berikut. Menurut UNESCO, indeks baca di Indonesia hanya 0,001. Artinya? Dari 1.000 orang, cuma 1 yang punya kebiasaan membaca. Sementara itu, indeks baca di Singapura mencapai 0,45, yang berarti dari 1.000 orang, ada 450 yang memiliki kebiasaan membaca. Terasa kan bedanya?
Satu lagi, setiap tahun, Indonesia cuma nerbitin sekitar 30.000 judul buku. Nggak cuma itu, rata-rata orang Indonesia juga cuma beli dua judul buku dalam setahun. Seriously? Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta, angka ini jelas jauh dari ideal.

Lingkaran Setan: Indeks Baca Rendah, Buku Sedikit, Penulis Makin Langka
Kenapa jumlah buku kita sedikit? Sederhana, karena penulis di Indonesia not well-paid. Kenapa? Karena pembacanya juga sedikit. Kenapa indeks baca rendah? Karena perhatian pemerintah belum cukup. Muter-muter di situ aja!
Lalu, apakah daya beli masyarakat rendah? For books, YES!. Tapi untuk rokok, paket data, skincare, dan barang konsumtif lainnya? Not really. Dalam satu keluarga, anggaran untuk buku bisa nol, sementara untuk belanja barang lain bisa jutaan. Benar, kan?

Mau Kembali ke Zaman Jahiliyah?
Kalau dibiarkan terus, kita bisa kembali ke the dark age. Kalau membaca itu mencerdaskan, maka tidak membaca bisa membodohkan. Dan orang bodoh mudah dimanipulasi. Apa kamu benar-benar mau seperti itu?

Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab semua orang. Kita perlu lebih menghargai penulis, bukan hanya dengan penghargaan simbolis, tapi juga dengan memperhatikan kesejahteraan mereka. Ada wacana beasiswa untuk penulis muda, pelatihan menulis, serta akses yang lebih baik terhadap buku. Tapi kalau hanya sekadar wacana tanpa tindakan? That's pointless.

Jadi, ini saatnya kita sadar! Mulai dari diri sendiri. Beli buku, baca, dan ajak orang lain membaca. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Apa kamu benar-benar ingin jadi alien di planet ini?

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...