Skip to main content

Bidaah (Broken Heaven): Kritik Sosial Tajam tentang Manipulasi Agama dan Feodalisme

Di tengah banyaknya tontonan yang hanya berfokus pada hiburan, Bidaah (Broken Heaven) hadir sebagai serial yang berani membongkar sisi gelap praktik keagamaan yang menyimpang. Serial ini tidak hanya mengangkat kisah tentang sekte keagamaan, tetapi juga bagaimana doktrin, feodalisme, dan pembenaran atas nama tarekat serta makrifat digunakan untuk mengendalikan orang-orang yang rentan.

Saat ini, Bidaah sudah tayang hingga episode 9, dan semakin menunjukkan bahwa manipulasi agama bukan sekadar cerita fiksi, melainkan sesuatu yang nyata terjadi di sekitar kita.

Di dalam serial ini, sekte Jihad Ummah dipimpin oleh Walid Muhammad, sosok yang dianggap memiliki otoritas spiritual tertinggi. Ia tidak hanya dihormati, tetapi juga diperlakukan bak manusia suci yang harus ditaati. Pengikutnya rela melakukan hal-hal ekstrem seperti:

– Mencium kaki sang pemimpin sebagai bentuk kepatuhan.
– Minum air bekas cucian kaki Walid sebagai ritual "keberkahan."
– Menerima segala ajaran dan perintah tanpa berani berpikir sendiri.

Jika ada orang luar yang mencoba mengingatkan atau mengkritik praktik-praktik ini, pengikutnya akan langsung membentengi diri dengan dalih spiritual:

"Ilmumu masih sedikit, kamu belum mencapai maqam ini."
"Ini bagian dari tarekat dan makrifat, bukan untuk semua orang."
"Hanya orang yang memiliki hati bersih dan ikhlas yang bisa menerima ajaran ini."

Di sinilah letak kritik sosial yang tajam dari serial ini, bagaimana agama dan spiritualitas yang seharusnya membebaskan manusia justru dijadikan alat untuk memperbudak dan menekan.
Ketika seseorang sudah dicuci otaknya dengan cara seperti ini, sangat sulit untuk membuatnya berpikir jernih. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai "cognitive dissonance", di mana seseorang menolak fakta yang bertentangan dengan keyakinan mereka, karena terlalu sulit untuk diterima. Ketika seseorang sudah menganggap gurunya sebagai sosok suci yang tidak bisa salah, maka tidak peduli seberapa logis argumen yang diberikan, mereka tidak akan mau menerima.

Apa yang ditampilkan dalam serial Bidaah bukan hanya sekadar cerita fiksi. Di berbagai komunitas keagamaan di Indonesia, sistem feodal dalam hubungan guru-murid atau kyai-santri masih sangat kuat.

Pemimpin spiritual sering dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi daripada manusia biasa.
Kritik terhadap mereka dianggap sebagai bentuk kurang ajar atau bahkan dianggap melawan Tuhan.
Para pengikut seringkali dilarang berpikir kritis dan harus meyakini semua ajaran yang diberikan oleh pemimpin spiritual.
Inilah yang membuat pengikut sekte seperti Jihad Ummah dalam serial Bidaah benar-benar tidak bisa dinasehati. Mereka tidak berani mempertanyakan ajaran yang diberikan, karena takut dianggap belum cukup ilmunya atau belum sampai pada maqamnya.
Ketika seseorang sudah masuk ke dalam sistem seperti ini, mereka akan sangat sulit dikeluarkan dari cuci otak yang mereka alami.

Serial ini memberikan kritik sosial yang tajam tentang bagaimana agama bisa disalahgunakan, bagaimana feodalisme masih bercokol dalam spiritualitas, dan bagaimana orang-orang bisa kehilangan akal sehat mereka dalam lingkungan yang menekan.

Lebih dari sekadar drama, Bidaah menunjukkan realitas yang masih terjadi di masyarakat kita.
1. Apakah ada pemimpin agama yang tidak boleh dikritik?
2. Apakah ada ajaran yang meminta pengikutnya taqlid buta?
Jika pertanyaan di atas masih relevan di sekitar kita, maka Bidaah adalah tontonan yang perlu kamu tonton.

Comments

Popular posts from this blog

Plagiat? Enggak Semua yang Kembar Itu Nyontek

Masalah plagiasi itu hal yang sensitif. Aku sendiri, terus terang, muak dengan praktik menjiplak karya orang lain tanpa malu. Tapi di sisi lain, yang juga bikin gemes adalah ketika ada orang yang dengan mudahnya menuduh plagiasi, padahal baru lihat judulnya saja, belum baca isinya, belum cek metodenya, bahkan kadang enggak  plek ketiplek pun udah langsung dicap menjiplak. Padahal dalam dunia karya ilmiah, kemiripan judul atau tema penelitian tidak otomatis berarti plagiasi. Kalau topiknya sama, tapi inovasi, metode, atau output-nya berbeda, ya itu sah-sah saja. Enggak bisa dibilang plagiat hanya karena kebetulan "kelihatan mirip di awal". Contohnya seperti ini: 1. Judul Sama, Penelitian Berbeda Total Misalnya: Karya A: "Media Sosial terhadap Remaja di Indonesia: Studi Kualitatif di Jakarta Selatan" Karya B: " The Effects of Social Media on Teenagers in the US: A Quantitative Study " Judulnya? Hampir kembar kalau kita terjemahkan. Tapi isinya? ...

Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan

🚨 Spoiler alert 🚨 Ketika mendengar judul film "Sore: Istri dari Masa Depan", ingatanku langsung terlempar ke beberapa tahun lalu, saat versi series-nya tayang di YouTube. Saat itu, cerita tentang seorang perempuan dari masa depan yang muncul di kehidupan seorang pria bernama Jonathan terasa seperti eksperimen manis dalam genre fiksi romantis. Namun, begitu versi filmnya dirilis, aku berekspektasi bahwa yang akan kutonton: hanya sebuah pengulangan dari versi series, ternyata bukan, jauh dari ekspektasi awal. Film ini bukan sekadar remake. Ia adalah rekonstruksi. Cerita lama dibongkar, dirakit ulang, dan diberi kedalaman emosional yang lebih matang. Versi film ini tidak hanya lebih masuk akal, tetapi juga menyentuh sisi yang lebih eksistensial dan filosofis tentang cinta, kehilangan, dan ingatan yang samar namun mengikat kuat di bawah sadar manusia. Diceritakan dari sudut pandang Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko), film ini membuka dengan premis yang mirip de...

#Puisi: Yang Tertinggal di Ujung Detak

Puisi ini saya tulis untuk seorang teman, yang baru saja kehilangan putrinya. Sebenarnya, kami tidak terlalu dekat. Hanya beberapa kali saling menyapa lewat WhatsApp, dan sekali berbincang singkat saat pembekalan CPNS. Tapi ketika membaca status WhatsApp-nya waktu itu, ada sesuatu di hati saya yang terasa berat... seperti ada jeda sunyi yang ikut pecah dalam dada saya. Saya tak membalas statusnya. Tak menulis ucapan duka. Ada ketakutan kecil… bahwa kata-kata saya justru akan terasa hampa, atau malah membuka luka yang belum sempat mengering. Tapi rasa itu tetap tinggal, menggantung di benak saya beberapa hari… sampai akhirnya saya memilih menuangkannya dalam bentuk lain: sebuah puisi. Saya mencoba membayangkan sejenak: menjadi dia, menjadi seorang ayah yang kehilangan, yang tetap harus berdiri, tetap harus menjadi sandaran… meski dadanya sendiri kosong. Dan mungkin… lewat baris-baris ini, saya hanya ingin bilang: saya ikut mendoakan, ikut diam-diam berduka. Yang Tertinggal d...