Tahun 2008. Saya masih anak SD waktu itu, lebih tepatnya duduk di bangku kelas enam di MI NU Buaran. Tahun itu adalah tahun pertama diberlakukannya Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SD dan sederajat. Bisa dibilang, semua terasa baru: menegangkan, bahkan sedikit mengintimidasi untuk anak-anak seumur saya kala itu.
Di tengah kekalutan tersebut, ada sebuah program yang mungkin diselenggarakan oleh sekolah, atau mungkin juga oleh pemerintah kota, saya sendiri kurang tahu pasti. Yang jelas, program ini mempertemukan saya dengan seseorang yang hingga hari ini masih membekas di hati saya: Bu Nurul Huda. Beliau adalah seorang guru dari Yogyakarta, didatangkan khusus untuk mengajar kami, para siswa-siswi dengan nilai tryout UN terendah. Iya, saya termasuk di dalam kelompok itu. Saya, yang waktu itu pendiam dan selalu merasa paling bodoh di kelas, menjadi salah satu peserta yang terpilih, atau lebih tepatnya, ‘terpaksa terpilih’.
Program ini digabungkan antara dua sekolah: MI NU Buaran (sekolah saya) dan MI Banyuurip Ageng. Kami dikumpulkan dalam satu ruangan, dan di sinilah saya pertama kali bertemu dengan Bu Nurul. Beliau datang dengan senyum yang hangat, membawa aura yang menenangkan, dan metode mengajar yang, jujur saja, sangat berbeda dari yang pernah saya alami sebelumnya.
Bu Nurul mengajar kami tiga mata pelajaran: Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia. Tapi, dari ketiganya, pelajaran yang paling berkesan buat saya adalah Matematika. Sebelum bertemu Bu Nurul, saya selalu melihat Matematika sebagai momok. Deretan angka, simbol, dan rumus yang membuat kepala saya sakit hanya dengan melihatnya. Tapi entah bagaimana, di tangan Bu Nurul, Matematika menjadi sesuatu yang... menyenangkan. Ia mengajarkan kami pelan-pelan, penuh kesabaran, dan selalu memberi semangat tanpa menyalahkan. Perlahan tapi pasti, saya mulai menyukai Matematika. Bahkan, mulai merasa percaya diri setiap berhasil menjawab soal, sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil saya rasakan.
Saya tidak bermaksud mengurangi rasa hormat kepada guru-guru saya di MI NU Buaran, mereka semua luar biasa. Namun, Bu Nurul punya cara yang lain. Cara yang membuat saya, anak kecil yang pemalu dan merasa tak mampu, percaya bahwa saya juga bisa. Bu Nurul tak hanya mengajarkan soal akademik, tapi juga memberi kepercayaan diri dan harapan kepada kami yang saat itu nyaris putus asa.
Program itu hanya berlangsung tiga bulan. Tapi dampaknya... luar biasa. Ketika akhirnya program berakhir, suasana menjadi sangat emosional. Kami semua tahu bahwa perpisahan dengan Bu Nurul tak terelakkan. Beberapa dari kami menangis. Saya juga. Mungkin karena saya anaknya cengeng, atau mungkin karena saya tahu bahwa saya akan sangat merindukan sosok yang begitu menginspirasi saya.
Yang menyedihkan adalah, setelah program itu selesai, kami benar-benar kehilangan jejak beliau. Tidak ada yang mencatat nomor kontaknya, tidak tahu alamat rumahnya. Yang saya tahu, beliau adalah lulusan UMY dan berdomisili di Bantul. Itu saja. Setelah itu, kami tak pernah lagi mendengar kabar beliau. Dan saya pun tumbuh, melewati masa-masa sekolah berikutnya, hingga kini, di usia dewasa, saya masih menyimpan satu harapan kecil: semoga suatu hari saya bisa bertemu lagi dengan Bu Nurul.
Saya ingin mengatakan terima kasih. Bukan hanya karena beliau telah membuat saya lulus UN dengan hasil yang tak pernah saya bayangkan, tapi juga karena beliau memberi saya pelajaran yang jauh lebih besar, bahwa setiap anak punya potensi, bahkan yang awalnya dianggap ‘bodoh’ sekalipun.
Terkadang saya berpikir, bagaimana kabar Bu Nurul sekarang? Apakah beliau masih mengajar? Atau sudah pensiun? Apakah beliau masih mengingat anak-anak dari MI NU Buaran dan MI Banyuurip Ageng yang pernah diajarinya dengan penuh kesabaran? Saya tidak tahu. Tapi satu yang pasti, saya dan teman-teman yang pernah merasakan sentuhan didiknya, tidak akan pernah melupakan beliau.
Jika ada di antara kalian yang membaca tulisan ini, dan kebetulan mengenal Bu Nurul Huda dari Jogja, yang pada tahun 2008 pernah mengajar di program khusus UN untuk siswa SD/MI di Kota Pekalongan, mohon bantu saya. Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung. Karena bagi saya, Bu Nurul bukan sekadar guru. Beliau adalah titik balik, cahaya kecil yang menuntun saya keluar dari rasa rendah diri dan ketakutan akan kegagalan.
Bu Nurul, di manapun Ibu berada sekarang, terima kasih. Terima kasih telah percaya pada kami, anak-anak kecil yang nyaris kehilangan harapan. Terima kasih telah melihat potensi di balik ketidakpercayaan diri kami. Semoga Tuhan selalu menjaga Ibu, memberi kesehatan dan kebahagiaan, seperti Ibu pernah memberi kami semangat dan cinta dalam bentuk paling murni: pendidikan.
Comments
Post a Comment